Asa Bitcoin untuk Reli Sinterklas Pudar
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin kini kembali anjlok sehingga meredam harapan akan ‘reli sinterklas’ yang secara historis mampu menghasilkan keuntungan besar selama periode liburan di tahun-tahun sebelum puncak siklus pasar.
Jika melirik data Coinmarketcap, Selasa (24/12/2024), pukul 15.00 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 94.101,36, atau menurun 1,28% dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin sempat jatuh lebih dalam pada dini hari tadi pukul 03.15 WIB, dengan harga US$ 92.509,83.
Melansir Cointelegraph, Selasa (24/12/2024), pasar kripto secara historis berkinerja baik sepanjang musim perayaan selama pasar bullish, tetapi kinerja Bitcoin yang suram pada bulan Desember telah memupus harapan akan apa yang disebut reli sinterklas.
Sebuah studi dari CoinGecko yang dirilis 13 Desember 2024 lalu mengungkapkan bahwa dari tahun 2014 hingga 2023, pasar kripto mengalami reli sinterklas delapan dari 10 kali pasca natal, dengan total kapitalisasi pasar kripto melonjak antara 0,7% hingga 11,8% selama jangka waktu satu minggu dari 27 Desember hingga 2 Januari.
Tidak ada reli sinterklas setelah puncak siklus pada tahun 2021, karena Bitcoin telah turun sekitar 26% dari titik tertingginya di US$ 69.000 pada hari natal dan terus turun sepanjang tahun 2022.
Perbedaannya adalah tahun 2021 merupakan tahun puncak siklus tersebut, sedangkan tahun 2025 diperkirakan menjadi tahun puncak siklus ini, mengikuti pola empat tahun yang telah terjadi sejak dimulainya Bitcoin.
Baca Juga
Indeks Ketakutan & Keserakahan Kripto Capai Titik Terendah Sejak Kemenangan Trump
Koreksi Sementara?
Setelah sempat mencetak rekor harga tertinggi baru di level US$ 108.000 pekan lalu, harga Bitcoin melemah hingga di level US$ 93.000 pada Senin (23/12/2024). Penurunan sebesar lebih dari 10% tersebut merupakan salah satu koreksi harga terdalam Bitcoin di sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut turut menekan saham perusahaan yang berfokus pada aset kripto, seperti MicroStrategy, Coinbase, dan Marathon Digital.
Walau demikian, tekanan jual Bitcoin terlihat mulai mereda pada hari ini (24/12/2024). Harga Bitcoin mengalami apresiasi minor ke level US$ 94.000 dan Ethereum yang sempat berada di bawah US$ 3.300 kini telah kembali ke level US$ 3.400. Selain itu, ETF Bitcoin spot masih membukukan netflow negatif pada perdagangan Senin kemarin, namun ETF Ethereum spot telah kembali membukukan aliran dana masuk positif sebesar US$ 41,3 juta, menyudahi netflow negatif pada dua hari perdagangan sebelumnya, mengacu data Coinglass.
Merespon kondisi tersebut, Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin mengatakan penurunan tersebut merupakan imbas dari sentimen negatif terhadap outlook kebijakan moneter AS tahun 2025.
“Pekan lalu, bank sentral AS, The Fed, mengisyaratkan tingkat suku bunga yang akan tetap tinggi dalam kurun waktu lebih lama dari ekspektasi, dengan memproyeksikan penurunan suku bunga hanya akan terjadi sebanyak dua kali sepanjang tahun tersebut. Kekhawatiran inflasi yang masih mengintai dan proyeksi pemangkasan suku bunga yang lebih sedikit di 2025 memicu aksi jual pada aset berisiko seperti saham dan aset kripto,” ujar Fahmi dalam risetnya, Selasa (24/12/2024).
Sementara itu, indeks S&P 500 juga terkoreksi 2% selama sepekan terakhir. Hal ini menunjukkan sentimen pasar global yang cenderung risk-off saat ini di mana investor mengurangi eksposur pada instrumen berisiko seperti saham dan aset kripto. Namun, Fahmi menekankan, kenaikan saham AS dan aset kripto yang signifikan sejak awal November turut menjadi faktor pemicu. Beberapa investor yang telah membukukan keuntungan memilih untuk melakukan aksi profit taking di tengah meningkatnya ketidakpastian ke depan.
“Meski saat ini sedang mengalami koreksi, Bitcoin tetap mencatat kenaikan luar biasa sepanjang tahun 2024. Secara year-to-date, Bitcoin telah mengalami kenaikan lebih dari 110% dan lebih dari 30% pasca pemilu AS. Pergerakan harga tersebut cukup mirip dengan beberapa saham AS populer seperti Tesla yang ikut terkoreksi setelah reli yang cukup signifikan. Tesla turun 12% dari rekor tertingginya pekan lalu, tetapi masih lebih tinggi 70% dari level harga sebelum pemilu AS,” imbuhnya.
Baca Juga
OJK Rilis Aturan Penyelenggaraan Perdagangan Aset Keuangan Digital, Termasuk Aset Kripto
Koreksi yang terjadi menyoroti relatif tingginya volatilitas di pasar kripto. “Meskipun terdapat aksi jual yang cukup besar, dengan ETF Bitcoin spot yang membukukan total aliran dana keluar neto sebesar lebih dari US$ 1,2 miliar dalam tiga hari perdagangan terakhir sejak 19 Desember, angka pembelian yang terjadi sepanjang bulan ini masih jauh lebih besar,” jelasnya.
Koreksi Bitcoin saat ini mencerminkan kombinasi dari pengaruh proyeksi kebijakan moneter AS yang lebih ketat dan aksi profit taking setelah reli yang terjadi pasca pemilu AS.
“Meskipun demikian, potensi dukungan dari jajaran pemerintahan pro-kripto AS di bawah kepemimpinan Donald Trump dapat memberikan sinyal bahwa kepercayaan terhadap aset kripto ini belum memudar. Adanya komitmen atau bahkan pengambilan kebijakan nyata yang memberikan dampak positif langsung terhadap pasar dan industri kripto dari Pemerintah Federal AS, berpotensi akan kembali membangkitkan euforia dan sentimen investor terhadap pasar kripto dalam skala yang mungkin akan jauh lebih besar dari hype yang tercipta sebelumnya,” kata Fahmi.
Koreksi jangka pendek di fase bullish seringkali dipandang sebagai peluang menarik bagi investor jangka panjang, khususnya mengingat Bitcoin tetap menunjukkan tren positif dari sisi adopsi, inovasi, dan dukungan institusional. “Bagi investor yang telah lama berkecimpung di pasar kripto, fluktuasi seperti saat ini mungkin bukan hal baru. Namun, bagi investor pemula, mempertimbangkan potensi risiko dan melakukan upaya-upaya mitigasi seperti dengan melakukan diversifikasi portofolio misalnya, bisa menjadi pendekatan yang cukup bijak untuk dilakukan,” tambahnya.

