Optimistis Bisnis Tumbuh Double Digit hingga Akhir 2024, Ini Strategi BSI (BRIS)
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI optimistis dapat melanjutkan tren perkembangan bisnis yang tumbuh double digit hingga akhir tahun ini. Hal itu seiring dengan berbagai upaya yang diambil bank syariah dengan kode saham BRIS tersebut untuk mencapai target tersebut.
“Kita harus menjaga kinerja hingga akhir tahun ini, bagaimana caranya untuk menjaga konsistensi pertumbuhan yang tumbuh double digit,” ujar Direktur Utama BSI Hery Gunardi, dalam paparan kinerja BSI kuartal ketiga 2024, Selasa (29/10/2024).
Hingga kuartal III 2024, total pembiayaan yang disalurkan BSI mencapai Rp 267,07 triliun atau tumbuh 15,28% secara year on year (yoy). Pertumbuhan tersebut didorong oleh seluruh segmen pembiayaan yang juga positif bahkan tumbuh double digit seperti pembiayaan wholesale yang tumbuh 12,17%, pembiayaan ritel naik 30%, dan pembiayaan konsumer meningkat 16,27%.
Baca Juga
BSI Catat Portofolio Pembiayaan Berkelanjutan Rp 62,5 Triliun di Kuartal III 2024
Selain itu, dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga mencatatkan pertumbuhan double digit atau naik 14,92% dari Rp 262,12 triliun pada kuartal ketiga tahun lalu menjadi Rp 301,22 tirliun di periode yang sama 2024.
Untuk mempertahankan kinerja positif yang tumbuh double digit tersebut, salah satunya BSI akan mendorong pendapatan dengan menumbuhkan bisnis pada segmen yang resilience seperti konsumer dan ritel, di mana di dalamnya juga ada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Lalu, juga menjaga dari sisi cost atau biaya.
“Selain mengejar pertumbuhan penetrasi di segmen-semen yang resilience dan memberikan profitability yang baik, disisi lain kita juga menjaga cost efficiency baik dari sisi cost of fund atau biaya dana ataupun biaya overhead,” kata Hery.
Baca Juga
Kemudian untuk menjaga komposisi dana murah atau current account saving account (CASA), dikatakan dia, BSI akan tetap melanjutkan penetrasi ke tabungan.
“Lalu dari sisi pembiayaan, kami sedang menumbuhkan segmen pembiayaan berbasis emas dengan melakukan intensifikasi pada existing customer untuk meningkatkan produk holding ratio (PHR),” ucap Herry.

