Sucor AM Beberkan Faktor Turunnya Tren Investasi Reksa Dana Saham
JAKARTA, investortrust.id – Presiden Direktur PT Sucorinvest Asset Management atau Sucor AM, Jemmy Paul Wawointana mengungkapkan, terdapat beberapa faktor turunnya tren investasi reksa dana saham di Indonesia, yang didorong rendahnya kinerja saham-saham blue chips atau kumpulan saham di indeks LQ45 yang sebagian besar menjadi alokasi investasi para manajer investasi.
“Kebanyakan fund manager (manajer investasi), underlying (asset-nya) biasanya kan (dialokasikan ke) blue chip kayak LQ45. Tahu nggak, LQ45 selama 10 tahun itu (kinerjanya) cuma naik 15%,” kata Jemmy dalam acara focus group discussion (FGD): Strategi MI Mengoptimalkan Kinerja Reksa Dana di Tengah Tren Penurunan Suku Bunga di Kantor investortrust.id, Jakarta, Kamis (17/10/2024).
Jika mengikuti rule of thumb, kata Jemmy, investasi biasanya akan mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan domestik bruto (PDB). “Jadi kalau GDP misalkan 1 (persen), harusnya (investasi di pasar modal) lebih 1,5 persen,” ujarnya.
Penurunan kinerja reksa dana saham tersebut sejatinya dialami oleh banyak manajer investasi, yang alokasi dana kelolaan reksa dana sahamnya lebih banyak ditempatkan di saham-saham blue chip yang nyatanya berkinerja buruk dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga
Kinerja Reksa Dana Mayoritas Menguat, Jenis Saham Catat Return 0,45% Sepekan
Situasi tersebut belakangan diikuti oleh aksi redemption oleh para investor yang bisa jadi memilih mengalokasikan dananya ke instrumen lain yang dianggap lebih menjanjikan. Situasi ini pun dialami oleh Sucor AM.
“Kita sendiri memang di puncaknya itu tahun 2020, (Sucor AM) itu nomor 3, dengan AUM Rp 40 triliunan. Sekarang tinggal Rp 22 triliun,” kata Jemmy. “Tentu saja lebih banyak redemption ya, karena kalau kita lihat kan turunnya lumayan besar ya, hampir 50%,” imbuhnya.
Redemption menurut Jemmy terbesar karena investor melakukan switching ke produk pendapatan tetap jangka pendek yang menawarkan tingkat yield dan return jauh lebih tinggi. Salah satunya Surat Berharga Negara yang menawarkan tingkat yield di atas 6%.
“Kita itu lumayan ‘terkena’ pada saat kenaikan yield yang lumayan (tinggi) selama 2 tahun terakhir. Terutama Indonesia SBN yang tenor pendek itu yieldnya sangat tajam (kenaikannya),” ujar Jemmy.
Namun demikian ia memaklumi kebijakan tightening yang dilakukan pemerintah untuk menekan tingkat inflasi, kendati berimbas pada dana kelolaan serta jumlah investor pada manajer investasi termasuk Sucor AM. Ia sendiri meyakini situasi yang terjadi saat ini bersifat siklikal, dan akan kembali normal ketika pemerintah mengakhiri kebijakan tightening tersebut.

