Saham SIDO dan KLBF Dinilai Undervalued, Target Harga Sahamnya Dikerek
JAKARTA, investortrust.id - Saham PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) termasuk ke dalam kategori saham sektor kesehatan yang harga sahamnya masih murah (unvervalued).
Mengacu pada data terolah oleh Litbang investortrust.id, saham SIDO memiliki price to earning ratio (PER) sebesar 17,96 kali dan price to book value (PBV) sebesar 5,71 kali. Di lantai bursa, pada penutupan perdagangan Jumat lalu, (27/9/2024) saham SIDO ditutup ke posisi Rp 665.
Sedangkan nilai PER saham KLBF tercatat 26,33 kali serta PBV sebesar 3,29 kali. Saham KLBF pada perdagangan Jumat lalu, (27/9/2024) ditutup di level Rp 1.735.
Baca Juga
Kalbe Farma (KLBF) Disebut dapat Manfaat Penguatan Rupiah, Sahamnya Direkomendasikan Beli
Selain kedua saham di atas, berderet saham-saham sektor kesehatan juga dianggap masuk kategori saham unvervalued seperti: TSPC, PEVE, DVLA, HALO, MERK, PRDA, OMED dan SOHO.
Kemudian, dari sisi kinerja SIDO menurut catatan riset NH Korindo Sekuritas Indonesia, SIDO akan melakukan ekspansi pasar ke Vietnam setelah berhasil mencapai pertumbuhan stabil di Malaysia dan Filipina. Rencana tersebut dicanangkan pada semester II-2024 mendatang.
Ekspansi pasar internasional akan menjadi pendorong utama pertumbuhan SIDO ke depannya. Pada semester I -2024, ekspor SIDO menyumbang 8% dari total penjualan, dengan peningkatan 73% dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga
Musim Hujan Bakal Dorong Pertumbuhan Kinerja Sido Muncul (SIDO) Lebih 20%, Kok Bisa?
Analis NH Korindo Sekuritas, Ezaridho Ibnutama, memaparkan, pada kuartal kedua 2024 pendapatan SIDO menurun secara musiman. Pendapatan kuartal II-2024 turun 20% secara kuartalan menjadi Rp 843 miliar. Hal itu karena penurunan musiman di segmen herbal dan suplemen dengan penurunan 22%. Kemudian diikuti segmen serta makanan dan minuman dengan turun 19% secara kuartalan.
“Meskipun kontribusinya sangat kecil yaitu 3%, segmen farmasi menunjukkan pertumbuhan yang stabil sebesar 18% (qoq) menjadi Rp 36 miliar,” tulis Ezaridho dalam risetnya, dikutip Minggu (29/9/204).
Dengan ini, NH Korindo mempertahankan rekomendasi overweight untuk saham SIDO dan menaikkan target harga menjadi Rp 750 per saham.
Di sisi lain, CGS International Sekuritas Indonesia menilai emiten sektor kesehatan yakni PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) akan mendapatkan keuntungan paling besar dari penguatan rupiah terhadap dolar AS.
Analis CGS Internasional Sekuritas Indonesia, Jason Chandra dan Elizabeth Noviana memaparkan, pada semester I-2024, sebanyak 29% dari harga pokok penjualan KLBF adalah dalam mata uang dolar AS, terutama untuk bahan aktif farmasi untuk produk farmasi dan susu bubuk skim untuk produk nutrisi.
CGS Internasional memperkirakan bahwa jika rupiah bertahan pada level saat ini di Rp 15.400, laba bersih KLBF akan naik 8% secara tahunan.
“Pasalnya, nilai tukar yang menguntungkan seharusnya tercermin dalam kinerja keuangan KLBF dari kuartal I-2025 dan seterusnya, karena persediaan bahan baku KLBF akan cukup untuk memenuhi kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan produksi selama 4-6 bulan,” tulis riset mereka.
Dengan demikian, CGS Internasional merekomendasikan buy saham KLBF dengan target harga sebesar Rp 1.900 per saham yang didorong oleh penguatan rupiah.
Grafik Harga Saham SIDO dan KLBF:

