Reksa Dana Berbasis Obligasi Korporasi Bakal Makin Bersinar, Ini Katalisnya
JAKARTA, investortrust.id - Pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed sebesar 50 basis poin menjadi 4,75% - 5,0% maupun BI Rate oleh Bank Indonesia ke level 6%, menjadi sentimen positif bagi pergerakan pasar modal Indonesia, termasuk instrument investasi reksa dana.
Sejumlah manajer investasi memberikan pandangannya terhadap prospek industri reksa dana pasca pemangkasan suku bunga tersebut.
Direktur PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen Eri Kusnadi mengatakan, di tengah rendahnya suku bunga saat ini, reksa dana berbasis obligasi menjadi menarik hingga akhir tahun sebab imbal hasil yang ditawarkan cenderung lebih tinggi.
“Secara keseluruhan ya. Karena kalau misalnya kita bicara suku bunga turun, biasanya kalau secara harga obligasi pemerintah akan lebih responsif. Obligasi korporasi biar bagaimanapun dengan likuiditas yang tidak setinggi obligasi pemerintah akan merespon tapi mungkin akan ada lag,” ujar Eri Kusnadi pada investortrust.id, baru-baru ini.
Baca Juga
Dow Jones Cetak Rekor Tertinggi di Tengah Pelemahan Wall Street
Senada, Fund Manager PT Trimegah Asset Management Adi Gemilang Gumiwang menilai bahwa reksa dana berbasis obligasi pemerintah dan korporasi masih memiliki potensi yang baik.
“Kalau untuk yang underlying-nya obligasi pemerintah, kita masih cukup positif ya. Walaupun mungkin kalau melihat level saat ini, potential up cukup terbatas. Dan kami cenderung melihat potensi di obligasi korporasi untuk hasil yang mungkin lebih optimal,” terang Adi Gemilang Gumiwang.
Untuk obligasi pemerintah, Menurut Adi, kebijakan suku bunga tersebut berpengaruh secara langsung untuk obligasi pemerintah dengan tenor jangka pendek.
“Kita ketahui memang secara imbal hasil yang short term itu lebih sensitif terhadap pergerakan suku bunga jadi tentu pengaruhnya lebih ke arah yang underlying-nya ke obligasi,” tuturnya.
Di samping itu, Batavia Prosperindo juga menjelaskan bahwa pada penurunan suku bunga oleh The Fed yang ditimbulkan bukan karena resesi dinilai dapat memberi stimulus bagi perekonomian global dan domestik khususnya pada pasar saham global.
Baca Juga
Per 1 Januari 2025, DHL Express Berlakukan Penyesuaian Harga
Untuk itu, Batavia Prosperindo memilih sejumlah sektor seperti perbankan, telekomunikasi, dan konsumer sebagai sektor yang layak dipantau.“ Terbukti so far pasar saham global dan termasuk domestik juga cenderung di teritori positif,” ungkap Eri.
Walaupun demikian, ia mengimbau untuk tetap mewaspadai adanya volatilitas pasar yang disebabkan oleh pemilihan presiden di Amerika Serikat. “Jadi sebagai negara-negara berkembang yang biasanya mengekspor ke negara maju khususnya AS, ini bisa menjadi resiko ketidakpastian sesuai dengan kebijakan dari masing-masing kandidat yang ada,” pungkasnya.

