Syailendra Capital Sebut Sentimen Pelantikan Presiden Bisa Bawa IHSG Sentuh 8.000
JAKARTA, investortrust.id - Chief Retail Officer PT Syailendra Capital Victor Teja meramal indeks harga saham gabungan (IHSG) bisa menyentuh level 8.000 setelah bulan Oktober 2024. Hal ini didorong oleh sejumlah sentimen positif dari dalam dan luar negeri.
“Dari situ kita liat biasanya sih pada saat bulan November ada pemilihan presiden US dan biasanya dari bulan Desember tuh bisa rally. Jadi sekarang agak sedikit anomali bulan Oktober ini. Yang seharusnya mungkin masih stagnan dan di bulan November harusnya baru rally. Kayaknya Oktober udah mulai rally nih,” ujar Victor saat ditemui usai Peresmian Kerjasama Strategis BTN-Syailendra Capital dengan tema “Riding Market Momentum Through a Diversified Wealth Portfolio”, Jakarta, Kamis (26/9/2024).
Ia memaparkan bahwa waktu yang paling dinanti pasar usai pemangkasan suku bunga adalah pelantikan presiden pada bulan Oktober. Oleh karena itu, pengumaman kabinet pemerintahan pada bulan tersebut akan menjadi sentimen yang mempengaruhi pasar.
Baca Juga
Syailendra Capital Incar Tambahan AUM Rp 1 Triliun hingga Akhir 2024
“Dari situ baru bisa kita ukur. Apalagi kita udah ngeliat RAPBN tahun 2025 kan sepertinya menyenangkan bagi market ya, pertanggal 16 Agustus kemarin. Dengan budget deficit hanya di 2,5%, kemudian debt-to-GDP ratio hanya sekitar 38-40%. Artinya obligasi gak bakal dikeluarkan jor-joran harusnya ya,” terangnya.
Seiring proyeksi positif IHSG, Victor menyarankan pelaku pasar untuk memantau sejumlah sektor menarik yaitu, perbankan, sektor konsumer, dan telekomunikasi.
Di samping itu, ia juga memproyeksi bahwa the Fed akan kembali memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin dan BI akan memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin.
“Kalau BI mungkin tinggal 1 kali lagi. Kalau FED itu 50 basis poin bisa dilakukan 2 kali atau mungkin 1 kali. Itu tergantung nanti kondisi laporan, data-data mereka seperti apa,” terangnya.
Baca Juga
BTN dan Syailendra Capital Genjot Penjualan Reksa Dana, Bidik Pertumbuhan AUM 20%
Hal tersebut dinilai dapat menjadi katalis positif untuk pasar modal Indonesia. Menurutnya, saat suku bunga rendah, maka perusahaan juga lebih mudah untuk melakukan pinjaman dan mengeluarkan obligasi.
“Impact-nya positif. Pada saat suku bunga rendah itu biasanya kan kecenderungannya lebih favor buat investor. Perusahaan juga jadi lebih lowong untuk bisa membeli pinjaman, mengeluarkan obligasi, pasti jauh lebih murah,” pungkasnya. (CR-4)

