Usai Sahamnya Anjlok hingga ARB, Manajemen Barito Renewables (BREN) Ungkap Informasi Ini
JAKARTA, investortrust.id – Usai FTSE Russel mendepak saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) perhitungan FTSE Global Index-large capital market, manajemen perseroan mengungkap sejumlah fakta berikut.
Saham BREN sempat anjlok hingga auto reject bawah (ARB) pada perdagangan Jumat (20/9/2024) setelah FTSE Russel mengumumkan pembatalan BREN sebagai konstituen FTSE Global Index-large capital market. Alasan utamanya karena free float saham yang rendah dan 97% saham perseroan dipegang empat pihak.
Baca Juga
Manajemen BREN dalam pengumuman resminya menyangkal bahwa free float saham rendah. Manajemen mengungkap daftar registrasi pemegang saham BREN, yaitu PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebanyak 64,66%, Green Era Energy Pte Ltd sebanyak 23,60%, Jupiter Tiger Holdings sebanyak 3,94%, dan Prime Hill Funds mencapai 3,76%. Dengan demikian empat pihak tersebut hanya menguasai 95,97% saham BREN dan sisanya dimiliki Masyarakat.
Selain itu, manajemen BREN dalam penjelasan resminya di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini mengumumkan, bahwa Barito Renewables (BREN) telah merealisasikan sejumlah strategi bisnis hingga kini. Di antaranya, perseroan melalui PT Barito Windo Energy telah menuntaskan akuisisi 99,99% saham PT UPC Sidrap Bayu Energy. Dengan demikian perseroan telah berekspansi ke sektor energi angin melengkapi sektor geothermal.
Kedua, dia mengatakan, BREN Bersama dengan ACEN Renewables International Pte LTd telah membentuk kemitraan trasformatif untuk mempercepat Pembangunan proyek energi angin terbarukan di seluruh Indonesia.
Baca Juga
Mengenaskan! Nilai Pasar Saham Lima Emiten Prajogo Pangestu Hangus Rp 413 Triliun dalam Sehari
Kolaborasi eksklusif ini, terang manajemen BREN, mendorong transformasi bangsa menuju masa depan energi yang berkelanjutan. Kemitraan strategis ini akan dilaksanakan melalui anak perusahaan ACEN, ACEN Indonesia Investment Holdings Pte. Ltd dan anak perusahaan Barito Renewables, PT Barito Wind Energy. Kemitraan ini dibangun berdasarkan akuisisi tiga aset pengembangan energi angin yang sedang memasuki tahap akhir di Sulawesi Selatan, Sukabumi, dan Lombok.
Aset-aset ini secara kolektif menawarkan kapasitas potensial sebesar 320 MW energi angin, dilengkapi dengan solusi penyimpanan energi baterai canggih, yang siap meningkatkan stabilitas dan efisiensi jaringan di seluruh wilayah.
Baca Juga
Mengenaskan! Nilai Pasar Saham Lima Emiten Prajogo Pangestu Hangus Rp 413 Triliun dalam Sehari
Pekan lalu, manajemen BREN menyebutkan, perseroan melalui anak usahanya Star Energy Geothermal akan meningkatkan kapasitas terpasang dalam jumlah signifikan. Inisiatif strategis ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Star Energy Geothermal melalui proyek retrofitting dan penambahan kapasitas baru, yang tidak hanya akan meningkatkan kapasitas berbagai unit geothermal yang dioperasikan oleh Star Energy.
Akhir pekan lalu, saham emiten yang dikendalikan Prajogo Pangestu ini terjun Rp 2.200 (19,96%) menjadi Rp 8.825. Bahkan, sebanyak 2,5 juta lot saham BREN sedang antri untuk dilepas di harga Rp 8.825.
Grafik Saham BREN

