Jelang Pemangkasan Suku Bunga The Fed, Begini Gerak dan Prospek Saham Perbankan
JAKARTA, investortrust.id – Rencana pemangkasan suku bunga the Fed menjadi salah satu sentimen yang paling dicermati oleh pelaku pasar. Pasalnya, kebijakan ini bisa berdampak ke pasar modal Indonesia, khususnya saham-saham emiten sektor perbankan.
Menjelang Federal Open Market Committee yang digelar Rabu (18/9), IHSG hari ini dibuka melesat 33 poin (0,40%) menjadi 7.862. Sejalan dengan hal tersebut, pada pukul 09.54 WIB, sektor perbankan menguat 0,54%, sejalan dengan penguatan sejumlah sektor lainnya seperti kesehatan, industri, properti dan industrial.
Baca Juga
Pasar Eropa Menguat, Saham Commerzbank Capai Level Tertinggi dalam 12 Tahun
Sejumlah saham perbankan menunjukkan penguatan, seperti saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) telah menguat 50 poin (0,94%) ke level 5.350, saham Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga naik 25 poin (0,44%) ke level 5.675. Sementara itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) bertahan di level 10.500.
Selain itu, saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) turut mencatatkan kenaikan sebesar 50 poin (1,61%) ke level 3.150. Lebih lanjut, saham bank digital seperti PT Bank Jago Tbk (ARTO) juga menunjukkan penguatan sebesar 110 poin (3,68%) ke level 3.100.
Analis Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan bahwa kenaikan saham perbankan ini telah mengalami priced in dengan potensi pelonggaran moneter dari the Fed yang telah ditunggu terkait tren penurunan suku bunga acuan lebih lanjut. Hal ini juga seiring dengan kebijakan Bank Indonesia yang diprediksi menurunkan BI Rate bulan Oktober.
Baca Juga
“Hal ini akan memberikan benefit kepada peningkatan likuiditas di sektor perbankan apalagi secara long term akan memberikan benefit terhadap meningkatnya kinerja net interest margin (NIM) yang juga terkait dengan peningkatan permintaan kredit bisa double digit dan potensi reducing of borrowing cost juga meningkat,” ujarnya saat dihubungi investortrust.id, Selasa (18/9/2024).
Sebelumnya, JP Morgan Amerika Serikat memprediksi, the Fed akan memangkas suku bunga sebanyak 3 kali hingga akhir tahun yang totalnya sebanyak 125 basis point. Lebih rinci, sebesar 50 basis poin di bulan September, 50 basis poin rate cut di bulan November, dan 25 basis poin rate cut di bulan Desember. Potensi pemangkasan suku bunga The Fed di bulan September ini diperkirakan akan menguntungkan Indonesia dari sisi arus modal dan likuiditas.
Sejalan dengan hal tersebut, J.P. Morgan mencermati Bank Indonesia akan memangkas 50 bps pada bulan September-Desember tahun ini.
Baca Juga
Saham BSI (BRIS) Melesat hingga Lewati Target Harga Sejumlah Sekuritas, Bakal Cetak Rekor Baru?
Lebih lanjut mereka juga memaparkan bahwa sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti bank, properti, dan otomotif akan mendapatkan keuntungan dari potensi pelonggaran moneter.
“Meskipun sebagian besar bank di Indonesia tidak akan mengalami ekspansi Net Interest Margin (NIM) selama siklus penurunan suku bunga, J.P. Morgan meyakini bahwa bank-bank tersebut dapat memperoleh manfaat dari peningkatan likuiditas dan arus modal,” ujar Head of Research & Strategy JP Morgan Indonesia, Henry Wibowo dikutip pada Rabu (18/9/2024).
Grafik Saham Sektor Keuangan

