Lima Perusahaan Tunda IPO Saham, Berkaitan dengan Skandal Dugaan Gratifikasi Karyawan?
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) buka suara terkait berita yang menyebutkan bahwa beberapa calon emiten batal melakukan pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering/IPO) saham.
Berdasarkan data yang dirilis BEI sebelumnya, sebanyak 23 perusahaan sedang dalam antrean (pipeline) IPO saham. Jumlah tersebut turun dari data sebelumnya sebanyak 28 perusahaan.
Baca Juga
BEI: Pipeline IPO 28 Perusahaan, 5 di Antaranya Beraset Jumbo
Perusahaan yang antre IPO tersebut terdiri atas lima emiten dengan aset skala besar dengan nilai di atas Rp 250 miliar. Sedangkan, 17 perusahaan dengan skala menengah beraset Rp 50-250 miliar dan 1 perusahaan dengan berskala kecil di bawah Rp 50 miliar.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, penyebab penundaan merupakan keputusan internal perusahaan. Penundaan juga akibat belum mmendapatkan persetujuan BEI setelah dilakukan evaluasi.
Baca Juga
“Semua proses evaluasi dilakukan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku tidak ada kaitannya dengan isu lain,” kata Nyoman kepada wartawan Kamis, (5/9/2024).
Hingga 30 Agustus 2024 telah tercatat sebanyak 34 emiten yang mencatatkan saham di BEI dengan dana yang dihimpun mencapai Rp 5,15 triliun.
Sebelumnya diberitakan Investortrust.id, berdasarkan surat yang dikirim ke ruang wartawan pasar modal, BEI memcat lima orang karyawannya, sebagai buntut dari ditemukannya pelanggaran permintaan imbalan dan gratifikasi atas jasa penerimaan Emiten untuk dapat tercatat sahamnya di BEl. Dari informasi yang beredar, kelima karyawan pada Divisi Penilaian Perusahaan BEl, yaitu divisi yang bertanggung jawab terhadap penerimaan calon Emiten, telah meminta sejumlah imbalan uang dan gratifikasi atas jasa analisa kelayakan calon emiten agar sahamnya dapat tercatat di BEI.
Melalui praktek terorganisir ini, bahkan para oknum tersebut kabarnya membentuk suatu perusahaan (jasa penasehat), yang pada saat dilakukan pemeriksaan ditemukan sejumlah akumulasi dana sekitar Rp 20 miliar.

