Wijaya Karya (WIKA) Raih Kontrak Baru Rp 11,59 Triliun, Cek Potensi Harga Sahamnya
JAKARTA, investortrust.id - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mencatatkan perolehan kontrak baru senilai Rp 11,59 triliun hingga Juli 2024. Kontribusi terbesar pada kontrak baru berasal dari segmen Industri, Infrastruktur & Gedung, Properti, dan Engineering, Procurement, Construction, Commissioning (EPCC).
Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito menyampaikan, beberapa proyek yang masuk ke dalam daftar kontrak baru tersebut, di antaranya proyek Pembangunan Jetty 1 Baru di Integrated Terminal Manggis, Bali, Gedung BMKG InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) di Jakarta dan Bali, serta beberapa perolehan kontrak lainnya baik di induk maupun anak perusahaan.
“Seiring dengan strategi perseroan untuk meningkatkan keunggulan eksekusi pengerjaan proyek dan pengendalian biaya operasi yang efektif, Perseroan telah menunjukkan progress on track atas upaya transformasi tersebut sehingga mampu menjaga competitiveness-nya serta kepercayaan stakeholders," kata Agung dalam keterangan resmi dikutip, Rabu (4/9/2024).
Seiring perbaikin kinerja, sejumlah perusahaan sekuritas merekomendasikan buy untuk saham WIKA, salah satunya PT Mandiri Sekuritas. Secara teknikal Mansek memperkirakan dalam jangka pendek harga saham WIKA akan mencapai target resistance level Rp 492. Namun bisa terjadi pelemahan WIKA diyakini bertahan pada level Rp 440.
Baca Juga
Melambung 137% dalam Sebulan, Lompatan Saham WIKA Ditopang Sejumlah Sentimen Ini
Berdasarkan catatan investortrust.id, WIKA telah melaporkan perolehan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 401,95 miliar di semester I-2024. Perolehan tersebut menunjukan pembalikan profitabilitas dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yang menderita rugi bersih atribusi sebesar Rp 1,88 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis, Kamis (29/8/2024) disebutkan, kenaikan profitabilitas mengerek laba per saham dasar menjadi Rp 20,86 per Juni 2024, dibandingkan periode yang sama tahun 2023 yang mengalami rugi per saham Rp 209,72 per saham.
Kondisi berbeda tampak pada pos pendapatan yang justru mengalami penurunan sebesar 18,57% secara year-on-year (YoY) menjadi Rp 7,53 triliun dibanding Rp 9,25 triliun di perioda yang sama tahun 2023.
Meski begitu Perseroan berhasil menekan beban pokok pendapatan menjadi Rp 6,89 triliun di semester I-2024 dibanding Rp 8,47 triliun. Sementara laba kotor yang dicatatkan sebesar Rp 645,52 miliar.
Pertumbuhan profitabilitas juga didukung oleh adanya penghasilan lain-lain yang mencapai Rp 4,38 triliun di semester I-2024. Sementara pada periode yang sama sebelumnya yang mencapai pendapatan lain-lain sebesar Rp 296,76 miliar.
Baca Juga
WIKA Gedung (WEGE) Bidik Kontrak Baru Rp 5 Triliun hingga Akhir Tahun
Penghasilan lain-lain di semester I-2024, terutama bersumber dari keuntungan restrukturisasi pinjaman Rp 3,94 triliun dan pemulihan penurunan nilai Rp 361,19 miliar.
Dengan begitu laba usaha yang dikantongi mencapai Rp 3,39 triliun di semester I-2024 dari posisi sebelumnya Rp 595,96 miliar.
Adapun dari sisi neraca WIKA mencatat total aset Rp 67,06 triliun hingga akhir Juni 2024, meningkat 1,64% YoY. Adapun liabilitas turun 9,23% secara tahunan menjadi Rp 51,20 triliun, sementara ekuitas melonjak 65,71% secara YoY menjadi Rp 15,86 triliun.
Sementara posisi arus kas setara kas perseroan pada akhir periode Juni 2024 tercatat mencapai Rp 7,04 triliun, menguat 284,73% secara tahunan dari posisi sebelumnya Rp 1,83 triliun.
Grafik Harga Saham WIKA secara Ytd:

