Sektor Infrastruktur Dinilai Masih Punya Prospek, Emiten Ini Masih ‘Undervalue’
JAKARTA, investortrust.id - Walaupun sektor infrastruktur dinilai memiliki prospek yang baik tahun ini, masih banyak saham dari emiten infrastruktur besar yang masuk dalam kategori saham undervalue.
“Sektor infrastruktur ke depannya pasti akan selalu bagus seiring investasi besar-besaran pemerintah atas pembangunan infrastruktur guna meningkatkan ekonomi dalam jangka panjang. Kemudian dilihat dari kinerja terakhir mayoritas saham menunjukkan pertumbuhan peluang untuk pergerakan harganya,” jelas Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Soekarno Alatas kepada investortrust.id, Sabtu (10/8/2024).
Daftar teratas saham undervalue sektor infrastruktur ditempati oleh PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK), PT Paramita Bangun Sarana (PBSA), PT PP (Persero) Tbk (PTPP) dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR). Selanjutnya daftar ini diisi oleh PT Remala Abadi Tbk (DATA), PT Indonesia Pondasi Raya Tbk (IDPR), PT Ketrosden Triasmita Tbk (KETR), PT Jasnita Telekomindo Tbk (JAST), PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk (JKON), dan yang terakhir PT Bangun Karya Perkasa Jaya Tbk (KRYA).
Soekarno mengatakan bahwa beberapa saham tersebut masuk ke dalam kategori undervalue karena PER yang masih di bawah rata-rata industri, kemudian PBV di bawah 1-2x atau rata-rata industri.
Soekarno mencermati bahwa di antara deretan saham undervalue tersebut, JSMR, PTPP, dan PBSA adalah saham yang paling layak dibeli. Hal ini disebabkan oleh valuasi dan likuiditas yang baik.
Baca Juga
Cek 10 Saham Energi yang Undervalued, ITMG dan ADRO Masuk Daftar
“Sedangkan PBSA meskipun likuiditas kurang bagus, namun emiten rajin membagi dividen dengan rasio DPR (Dividend Pay out Ratio) rata-rata 84% dalam 3 tahun terakhir dan bisa menghasilkan potensi dividen yield 8% sampai 15%. Jadi meskipun kita harus hold dalam jangka panjang kita bisa menghasilkan yield yang tinggi,” tuturnya.
Namun ia juga mengatakan belum tentu saham undervalued layak dibeli, karena harus mencermati kinerja keuangan dari perusahaan. Kemudian, investor diharap memahami karakter sahamnya supaya dapat mengetahui strategi yang cocok. “Misal jika likuiditas pasar kurang bagus dan jika kita masuk dengan size yang besar, kemudian jangka waktu kita lebih ke minor to medium term maka akan kurang cocok juga,” terangnya.
Menurut catatan investortrust.id, price earning ratio (PER) saham BUKK hingga akhir pekan lalu (2/8/2024) tercatat 3,65 kali dengan price to book value (PBV) 0,56 kali. Sedangkan PER saham PBSA 4,12 kali dan PBV 1,35 kali.
Kemudian, PTPP mencatat PER 4,47 kali dan PBV 0,12 kali. Serta JSMR mencatat PER 4,97 kali dengan PBV 0,91 kali.
Baca Juga
Prospek Industri Cerah, Cek Saham Properti yang Masih Undervalued
Asal tahu saja, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) menunjukkan kinerja keuangan yang positif pada kuartal II-2024. Jasa Marga membukukan lompatan laba bersih sebanyak 104% dari Rp 1,14 triliun menjadi Rp 2,34 triliun pada semester I-2024. Kenaikan tersebut ini sejalan dengan pertumbuhan pendapatan sebanyak 30% dari Rp 6,98 triliun menjadi Rp 9,10 triliun.
Sementara itu, PTPP juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 9% dari Rp 8,04 triliun pada semester I 2023 menjadi Rp 8,79 triliun pada semester I 2024. Kemudian, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga tumbuh 52% menjadi Rp 147,0 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yaitu Rp 96,41 miliar.
PTPP juga berhasil mencatatkan nilai kontrak baru senilai Rp 8,9 triliun hingga periode bulan Mei 2024. Pencapaian tersebut meningkat sebesar 31,35 % dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu (yoy) senilai Rp 6,7 triliun. Pencapaian perolehan nilai kontrak PTPP pada bulan Mei 2024 adapun di antaranya yaitu Proyek Peningkatan Jalan di dalam KIPP Ibu Kota Nusantara; Kawasan West Residence sebesar Rp 732 miliar, Proyek Portsite Accomodation Complex Construction Freeport sebesar Rp 326 miliar, serta perolehan kontrak baru dari Anak Perusahaan sebesar Rp 1.36 Triliun.
Disamping itu, PSBA juga berhasil menorehkan pertumbuhan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan sebesar 44% menjadi Rp 44,84 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 31,12 miliar. Hal ini sejalan dengan kenaikan pendapatan 33% menjadi Rp 320 miliar pada semester I 2024 dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 240,12 miliar.
Manajemen PSBA menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar Rp 855 miliar dan laba bersih senilai Rp 175 miliar sepanjang tahun 2024. “Perseroan terus melakukan optimalisasi terhadap pendapatan, selain menjalankan proyek kontrakstruktur di luar main client yang sama ini dijalankan. Selain itu, Perseroan juga memaksimalkan anak usaha yang telah dibentuk,” tutur manajemen Perseroan dikutip dari keterbukaan informasi pada Minggu (11/8/2024)
|

