Manajemen BCA Tambah Kepemilikan Saham BBCA, Pasar Cermati Sinyal Positif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Sejumlah direksi dan manajemen PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA tercatat melakukan aksi pembelian saham perseroan di tengah fluktuasi pasar pada awal 2026. Langkah ini dinilai sebagai sinyal kepercayaan internal terhadap prospek kinerja jangka panjang bank tersebut.
Berdasarkan data transaksi kuartal I 2026, beberapa petinggi BCA menggelontorkan dana miliaran rupiah untuk menambah kepemilikan saham. Di antaranya Hendra Lembong dengan pembelian sekitar Rp 7,93 miliar, John Kosasih senilai Rp 4,37 miliar, serta Vera Eve Lim sebesar Rp 3,84 miliar.
Selain itu, Santoso membeli saham senilai Rp 3,46 miliar, Frenkie Candra Kusuma mengakumulasi Rp 2,87 miliar sejak 2025, dan Lianawaty Suwono membeli 300.000 saham senilai Rp 2,1 miliar saat pasar bergejolak.
Baca Juga
BCA Stock: A Rare "Treasure Hunt" as Indonesia’s Banking Giant Hits Deep Discount
Pengamat pasar modal Rendy Yefta menilai, aksi ini mencerminkan strategi buy on weakness, yakni membeli saham saat harga terkoreksi. "Langkah tersebut umumnya diartikan sebagai indikasi bahwa manajemen melihat valuasi saham masih menarik," ujarnya dikutip Senin (20/4/2026).
Dari sisi valuasi, saham BBCA saat ini diperdagangkan pada kisaran price to earnings ratio (PER) sekitar 15 kali. Angka ini relatif lebih rendah dibanding saham bank digital, meskipun BCA memiliki kinerja laba yang jauh lebih besar dan stabil.
Baca Juga
Dengan fundamental yang kuat serta posisi sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia, sejumlah analis menilai terdapat potensi kenaikan harga saham apabila valuasi kembali ke rata-rata historis di kisaran PER 18–20 kali. Hal ini membuka peluang penguatan harga saham dalam jangka menengah.
Meski demikian, pelaku pasar tetap diingatkannya untuk mempertimbangkan risiko, termasuk volatilitas pasar dan dinamika ekonomi global, sebelum mengambil keputusan investasi.

