Wamenkeu: Anggaran Rp 36,6 Triliun Sudah Mengalir ke 60,24 Juta Penerima MBG
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara mengatakan anggaran Rp 36,6 triliun telah mengalir untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“MBG telah mencapai 60,24 juta penerima dijalankan 23.678 SPPG (satuan pelayanan pemenuhan gizi) hingga 21 Februari 2026,” kata Suahasil saat paparan APBN KiTa edisi Februari 2026, di kantornya, Jakarta, Senin (23/2/2026).
Suahasil mengatakan, penerima manfaat MBG hingga akhir 2025 mencapai 53,8 juta penerima manfaat yang tersebar di 38 provinsi. Selama 2025, pemerintah menggelontorkan Rp 51,5 triliun atau 72,5% dari pagu APBN yang sebesar Rp 71 triliun.
Baca Juga
Pada tahun lalu, terdapat 19.069 SPPG yang terlibat. Hal ini membuat MBG dikerjakan oleh 741.985 pekerja. “Kalau kita bandingkan dengan 31 Januari 2025, penerimanya itu baru 549.669 orang melalui 246 SPPG, sekarang telah melonjak menjadi 60,24 juta penerima di 23.678 SPPG,” kata dia.
Suahasil mengatakan sebaran MBG terbesar, di antaranya Pulau Sumatra sebesar 12,3 juta dan Sulawesi 4,4 juta orang.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya memaparkan kesuksesan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah disalurkan kepada 60,2 juta penerima manfaat yang terdiri dari anak-anak sekolah, ibu hamil, hingga warga lanjut usia atau lansia.
Dari total 60,2 juta penerima manfaat tersebut, produksi dan distribusi MBG telah mencapai 4,5 miliar porsi makanan. Prabowo mengakui terdapat sekitar 28.000 penerima yang mengalami gangguan akibat makanan dengan berbagai penyebab. Namun, sebagian besar tidak memerlukan perawatan intensif.
Baca Juga
"28.000 (orang) ini sebagian besar tidak perlu dirawat dan 28.000 ini dibandingkan 4,5 miliar statistiknya 0,0000 sekian, berarti ini adalah 99,99994, kita ingin zero error yang harus dicapai," ucap Presiden Prabowo pada acara Indonesia Economic Outlook 2026 yang digelar di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Prabowo menyebutkan, setiap hari program ini mendistribusikan makanan dalam jumlah setara populasi negara sebesar Afrika Selatan. Untuk kelompok ibu hamil dan lansia, distribusi dilakukan langsung ke rumah guna memastikan asupan gizi tetap terpenuhi.

