BI Catat Utang Luar Negeri Indonesia Turun 0,39% di Oktober 2025, Sinyal Apa?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Oktober 2025 menurun 0,39% secara bulanan mencapai US$ 423,9 miliar dibandingkan September 2025 US$ 425,6 miliar. Adapun ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat 29,3% pada Oktober 2025.
“Secara tahunan, ULN Indonesia tumbuh 0,3% terutama dipengaruhi pertumbuhan ULN sektor publik,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resminya, Senin (15/12/2025).
Baca Juga
Berdasarkan data ULN pemerintah pada Oktober 2025 sebesar US$ 210,5 miliar atau tumbuh 4,7% secara tahunan. Perkembangan ULN dipengaruhi aliran modal asing pada surat berharga negara (SBN) internasional. Hal ini terjadi seiring tetap baiknya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
“Sebagai salah satu instrumen pembiayaan APBN, ULN dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel, serta pemanfaatannya terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas yang mendorong keberlanjutan dan penguatan perekonomian nasional,” ujar dia.
Berdasarkan sektornya, ULN pemerintah dimanfaatkan untuk mendukung beberapa sektor penting. Sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial memanfaatkan 22,2% ULN pemerintah. Selanjutnya, administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 19,6%, jasa pendidikan 16,4%, konstruksi 11,7%, serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,6%.
Baca Juga
“Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99% dari total ULN pemerintah,” kata dia.
Sementara itu, ULN swasta tercatat terkontraksi secara bulanan dan tahunan. ULN swasta pada Oktober 2025 tercatat sebesar US$ 190,7 miliar lebih rendah 0,93% dari September 2025 yang sebesar US$ 192,5 miliar dan turun 1,9% secara tahunan.
Penurunan posisi ULN terjadi pada kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations), yang masing-masing tercatat kontraksi sebesar 4,7% secara tahunan dan 1,2% secara tahunan.
Berdasarkan sektor ekonomi, posisi ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 80,9% terhadap total ULN swasta.

