Tarif Resiprokal AS Dongkrak Ekspor Indonesia, BI: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV Diprediksi Pesat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) ternyata menjadi salah satu pendorong melejitnya ekspor Indonesia pada kuartal III dan IV-2025.
“Kita bersyukur bahwa pertumbuhan ekonomi nasional di triwulan III dan IV berjalan baik. Salah satunya didorong kenaikan pesat ekspor, terutama ke AS, istilahnya front loading,” kata Perry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Baca Juga
Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Tumbuh 5,92%, Lampaui Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Ia menjelaskan, langkah front loading dilakukan eksportir untuk mengantisipasi implementasi kebijakan tarif AS. Selain ekspor, pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh kuatnya investasi dan konsumsi dalam negeri. “Meskipun memang konsumsi di dalam negeri terus kita dorong,” ujarnya.
Perry mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal III-2025 mencapai 5,04%. Dalam periode tersebut, ekspor tumbuh 9,91%, konsumsi rumah tangga 4,89%, dan investasi 5,04%.
Baca Juga
Target Kinerja dan Saham Astra (ASII) Direvisi Naik, Berikut Faktor Pendorong
Menurut Perry, pertumbuhan ekonomi kuartal IV diperkirakan lebih tinggi lagi, seiring dengan percepatan ekspansi stimulus fiskal dan realisasi proyek-proyek pemerintah. Selain itu, bantuan sosial dan paket kebijakan ekonomi juga menjadi penopang tambahan.
“Secara keseluruhan kami perkirakan pertumbuhan ekonomi 2025 berada di kisaran 4,7% sampai 5,51%, dengan titik tengah sedikit di atas 5,1%,” jelasnya.
Lebih lanjut, Perry menyampaikan, BI memperkirakan perlambatan ekonomi global masih berlanjut pada 2026. Faktor utamanya berasal dari kebijakan tarif resiprokal yang menekan laju pertumbuhan di AS dan China, meskipun ekonomi Uni Eropa dan India masih menunjukkan performa positif. “Tapi, secara keseluruhan pertumbuhan global pada 2025 akan lebih rendah dibandingkan 2024,” kata Perry.
Baca Juga
Ekonomi Kreatif Sumbang Rp1.500 Triliun ke PDB, Investasi dan Ekspor Menguat
Adapun pertumbuhan ekonomi dunia pada 2024 tercatat 3,3%, dan pada 2025 diproyeksikan melambat ke 3,1%. Sementara pada 2026, pertumbuhan global diprediksi turun menjadi 3%.
Di sisi lain, inflasi global pada 2025 diperkirakan mencapai 4,3% dan akan menurun ke 4,1% pada 2026. “Pola pertumbuhan ekonomi yang melambat dan inflasi yang tinggi ini turut memengaruhi kecepatan dan waktu penurunan suku bunga kebijakan di berbagai negara,” tutup Perry.

