Penguatan Dolar AS Tekan Mata Uang Asia Termasuk Rupiah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada Selasa (11/11/2025) pagi menekan sejumlah mata uang Asia, termasuk rupiah. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja dolar terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,09% ke posisi 99,67.
Pergerakan ini menekan nilai tukar rupiah yang melemah 43 poin atau 0,26% menjadi Rp 16.697 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah mencerminkan respons pasar terhadap prospek ekonomi global yang belum stabil serta dinamika kebijakan fiskal di AS.
Selain rupiah, mata uang kawasan Asia lainnya juga tertekan oleh penguatan dolar. Yen Jepang melemah 0,08%, sementara yuan China turun 0,05%. Won Korea Selatan dan dolar Singapura juga terkoreksi masing-masing sebesar 0,55% dan 0,03%.
Namun, tidak semua mata uang regional ikut terseret. Ringgit Malaysia dan peso Filipina justru mencatatkan penguatan tipis masing-masing 0,02% dan 0,08%, menunjukkan ketahanan relatif di tengah fluktuasi pasar valuta asing.
Baca Juga
Optimisme Konsumen dan Spekulasi The Fed Bikin Rupiah Ditutup Perkasa Awal Pekan Ini
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Andry Asmoro menilai bahwa penguatan dolar AS didorong oleh kombinasi faktor global, termasuk perkembangan politik domestik Amerika. Ia menjelaskan bahwa DXY sempat turun tipis 0,01 basis poin pada Senin (10/11/2025) menjadi 99,59 karena optimisme bahwa penutupan pemerintahan AS akan segera berakhir.
“Sentimen positif dari potensi berakhirnya penutupan pemerintahan AS sempat menahan penguatan dolar, namun pasar kembali fokus pada prospek suku bunga dan data ekonomi,” ujar Andry, Selasa.
Senat AS sebelumnya meloloskan tahap pertama kesepakatan untuk membuka kembali pemerintahan federal, setelah penutupan selama lebih dari sebulan. Kesepakatan tersebut mengamankan 60 suara dan akan mendanai sejumlah lembaga seperti Departemen Pertanian, Urusan Veteran, serta Kongres hingga 30 Januari 2026.
Dampak Ekonomi dan Sentimen Konsumen
Penutupan pemerintahan AS (government shutdown) turut membebani perekonomian. Indeks Sentimen Konsumen yang disusun oleh University of Michigan pada November 2025 turun ke posisi 50,3, mencerminkan kekhawatiran terhadap tekanan harga dan memburuknya kondisi keuangan rumah tangga.
Baca Juga
Pemerintah Ajukan RUU tentang Redenominasi Rupiah, Kemenkeu Targetkan Kelar 2027
Tekanan ini menimbulkan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi AS yang bisa berdampak pada pasar global. Investor kini menanti arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) dan data inflasi berikutnya untuk memperkirakan kemungkinan pemangkasan suku bunga.
Sementara itu, di Eropa, pasar saham justru bergerak positif. Pada penutupan perdagangan Senin (10/11/2025), indeks CAC 40 Prancis naik 1,32% menjadi 8.055,51, sedangkan DAX Jerman menguat 1,65% ke 23.959,99. Penguatan bursa Eropa mencerminkan optimisme investor terhadap pemulihan aktivitas bisnis di kawasan tersebut.
Analis memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.625–Rp 16.696 per dolar AS dalam jangka pendek.

