Ekonom: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2025 di Kisaran 4,88%-5,05%
JAKARTA, investortrust.id – Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2025, Rabu (5/11/2025) pukul 11.00 WIB. Sejumlah ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4,88%-5,05% secara tahunan.
Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI Teuku Riefky memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 4,88% secara tahunan pada kuartal III-2025 dengan estimasi berada pada rentang 4,86% hingga 4,9%.
Baca Juga
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2025 Diproyeksikan Lebih Tinggi dari 5,12%
Ia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 4,95% secara tahunan, berada dalam kisaran 4,93% hingga 4,97%.
Sementara itu, Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata Faisal Rachman memproyeksikan, pertumbuhan kuartal III-2025 berada di kisaran 5,04%. Angka ini turun dari pertumbuhan kuartal II-2025 sebesar 5,12%.
Menurut Faisal, perlambatan tersebut dipengaruhi melemahnya konsumsi rumah tangga akibat ketidakpastian politik pada Agustus 2025 yang menekan kepercayaan konsumen, serta normalisasi pembentukan modal tetap bruto (PMTB) seiring melambatnya impor barang modal. Namun, ia menilai belanja pemerintah diperkirakan kembali tumbuh positif sejalan dengan agenda pro-pertumbuhan di bawah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memprediksi ekonomi kuartal III-2025 tetap berada di sekitar 5%. Ia memperkirakan pertumbuhan sebesar 5,05% secara tahunan, ditopang konsumsi rumah tangga dan kinerja eksternal yang membaik.
Baca Juga
Purbaya Optimistis Target Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2025 Tercapai
“Konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap kuat di 5% secara tahunan, didukung pertumbuhan penjualan ritel rata-rata 4,7% yang menunjukkan permintaan domestik terjaga di tengah inflasi yang terkendali,” jelas Andry.
Namun, aktivitas investasi diperkirakan melambat menjadi 4,5% secara tahunan, lebih rendah dari 7% pada kuartal II-2025. Pelemahan tersebut tercermin dari kontraksi penjualan semen dan penurunan impor barang modal. Sementara itu, belanja pemerintah diperkirakan terkontraksi sebesar -2,5% secara tahunan seiring realisasi belanja fiskal yang turun -2,9%.

