Kantor Purbaya Terbitkan Dimsum Bond, Bidik RMB 6 Miliar
Poin Penting
|
BUKITTINGGI, investortrust.id - Direktorat Jenderal Pengelolaan dan Pembiayaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) merilis Dimsum Bond, surat utang dengan denominasi renminbi di Singapore Exchange atau SGX.
Laporan The Business Times, yang mengutip Reuters, menyebut, total obligasi ini ditawarkan dalam dua kupon dengan tingkat imbal hasil sebesar 2,5% dan 2,9%. Total nilai yang ditargetkan untuk surat utang ini senilai RMB 6 miliar atau setara US$ 841,9 juta.
“Dana hasil penerbitan akan digunakan untuk belanja pemerintah,” tulis laporan tersebut, diakses Jumat (24/10/2025).
Seri lima tahun bernilai RMB 3,5 miliar dengan imbal hasil 2,5%. Sementara itu, seri 10 tahun ditawarkan dengan imbal hasl RMB 2,5 miliar senilai imbal hasil 2,9%. Angka imbal hasil ini lebih rendah dengan penawaran awal sebesar 2,95% dan sekitar 3,3%.
Obligasi ini akan jatuh tempo pada 31 Oktober 2030 dan 31 Oktober 2035, serta akan tercatat di Bursa Efek Singapura.
Reuters menyebut Dimsum Bond merupkan surat utang senior tanpa jaminan atau senior unsecured noted yang terdaftar di Securities and Exchange Commission (SEC) dan tunduk pada hukum New York, dengan kupon tetap yang dibayarkan tiap enam bulan sekali.
Baca Juga
Penerbitan Dimsum Bond Masih Sesuai Jadwal, di Kuartal IV-2025
Ekonom Bahana TCW Investment Management Emil Muhammad menjelaskan dari sudut pemerintah, rilisnya Dimsum Bond ini sngat menguntungkan. Alasannya, Indonesia menjalankan transaksi perdagangan yang tinggi dengan China.
“Walaupun secara mata uang belum menggunakan yuan, kita sudah membangun local currency settlement,” ujar Emil, saat taklimat media, di Bukittingi, Sumatera Barat, Jumat (24/10/2025).
Alasan lain yang mendasari kondisi ini yaitu, nilai tukar rupiah terhadap yuan masih relatif terjangkau daripada rupiah terhadap dolar AS. Posisi rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan sekitar 2,5% selama lima tahun terakhir, sementara terhadap yuan hanya melemah 1%.
“Kalau kita issue tenor panjang, misalnya dari hari ini sampai 10 tahun ke depan, dolar dan yuan, mana mata uang yang lebih melemah? Kita lebih melemah terhadap dolar,” kata dia.
Dengan perbedaan ini jarak ini, pemerintah punya risiko pelemahan mata uang yang lebih rendah. “Makanya ini menjadi kesempatan terbaik kita untuk bisa secure 2,9% selama 10 tahun. Very cheap, very timely juga. Jadi, pemerintah kita bisa secure 2,9%” kata dia.

