BI dan OJK Luncurkan "Matchmaking Overnight Index Swap"
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga industri perbankan terus memperkuat sinergi dalam pengembangan instrumen keuangan domestik. Salah upaya itu diwujudkan dengan peluncuran Matchmaking Overnight Index Swap (OIS).
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan BI terus mendorong pendalaman uang melalui peningkatan volume transaksi dan pembentukan harga yang lebih kredibel.
“Di pasar uang, fokus diarahkan pada transaksi repo dan OIS, yang mengacu pada suku bunga acuan INDONIA,” kata Destry, dalam keterangannya, dikutip Sabtu (28/9/2025).
Sementara itu, di pasar valuta asing (valas), penguatan dilakukan melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan FX Swap. Sistem ini menggunakan referensi kurs JISDOR serta kurs acuan non-USD/IDR.
Destry mengatakan matchmaking OIS berfungsi memfasilitasi pencocokan transaksi antarbank. Ini dilakukan agar harga terbentuk lebih efisien dan interaksi pasar lebih lancar.
Ketersediaan suku bunga acuan berbasis INDONIA, kata dia, diharapkan memperkuat mekanisme harga instrumen OIS yang bersifat forward looking.
“Tentunya BI tidak bisa sendirian, perlu sinergi dan kerja sama kita bersama," ujar Destry.
Baca Juga
Juda Agung Diangkat Sebagai Anggota Dewan Komisioner OJK Ex-officio Bank Indonesia
Sejalan dengan itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan penggunaan INDONIA sebagai acuan OIS merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kredibilitas, transparansi, dan efektivitas suku bunga rupiah. Ini akan sejalan dengan reformasi suku bunga global.
Dian mengatakan OJK akan berkomitmen memantau, mendampingi, dan mendorong pemanfaatan instrumen berbasis INDONIA agar memberi stabilitas sistem keuangan.
“Dengan sinergi seluruh pemangku kepentingan, kita optimis pasar keuangan Indonesia semakin kompetitif dan berdaya saing,” jelas Dian.
BI mencatat perkembangan positif di pasar valas. Hingga Agustus 2025, rata-rata harian transaksi DNDF mencapai US$ 212 juta, atau sekitar sepuluh kali lipat lebih tinggi dibanding awal penerapannya pada 2018.
Untuk meningkatkan transaksi, dukungan dari sisi industri begitu penting. Ini ditunjukkan dengan penandatanganan 105 kontrak perjanjian induk derivatif baru dan 23 komitmen kontrak penerapan margin oleh 56 bank. Langkah ini mencerminkan keseriusan perbankan untuk memperkuat fondasi pasar domestik, khususnya dalam pengembangan OIS dan DNDF.

