Terus Melemah, Rupiah Bisa Sentuh Rp 17.000 di Oktober?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah terus mengalami pelemahan pada September 2025. Pada Kamis (25/9/2025) pukul 11.49 WIB, pasar spot yang tercatat oleh Bloomberg, menunjukkan Mata Uang Garuda terdesak hingga Rp 16.740 per US$.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, depresiasi rupiah dapat semakin dalam pada Oktober. Ini dapat terjadi jika rupiah telah menembus Rp 16.800 per US$.
“Seandainya tembus ke Rp 16.800 per US$, ada perkiraan pada Oktober 2025, rupiah bisa tembus ke Rp 17.000 per US$. Itu sangat mungkin terjadi,” kata Ibrahim, dalam pernyataan resminya, Kamis (25/9/2025).
Ibrahim mengatakan kondisi ini dipengaruhi sejumlah faktor. Dari eksternal, tekanan rupiah terjadi seiring memanasnya geopolitik di Eropa.
“Ketegangan geopolitik di Eropa terus memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada saat berpidato di PBB menyampaikan nada yang lebih agresif terhadap Rusia,” kata dia.
Trump memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak membeli minyak dari Rusia. Ancaman ini diikuti rencana pemberian sanksi baru terhadap perdagangan energi negara-negara di Eropa dengan Rusia.
Meskipun masih rencana, retorika tersebut meningkatkan risiko geopolitik. Pasar khawatir sanksi yang lebih keras dapat mengganggu ekspor Rusia dan memicu tindakan balasan pasokan energi.
Baca Juga
Lanjutkan Penurunan, Rupiah Jebol Rp 16.700 per US$ Hari Ini
Rusia juga masih menghadapi tekanan konflik dengan Ukraina. Wacana gencatan senjata terhalang oleh permintaan Ukraina untuk mengembalikan wilayah yang diduduki Rusia.
“Ini membuat indeks dolar (DXY) semalam penguatannya cukup signifikan, bahkan sempat menembus 87,85,” kata dia.
Dari dalam negeri, Ibrahim menduga pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menolak diadakannya tax amnesty membuat pelaku pasar merespons dengan negatif.
Selain itu, Ibrahim menyebut upaya Bank Indonesia (BI) untuk mengintervensi rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) mengalami hambatan.
“Spekulasi yang begitu besar di pasar internasional, NDF, membuat BI kewalahan melakukan intervensi,” jelas dia.
Sementara itu, Presiden Komisioner HFX Internasional Berjangka Sutopo Widodo mengatakan pelemahan rupiah yang terus terjadi dalam sepekan karena spekulasi mengenai pemangkasan Fed Fund Rate (FFR) oleh the Fed.
Meskipun pasar sempat mengantisipasi penurunan suku bunga acuan The Fed (FFR) dalam waktu dekat, kata Sutopo, komentar dari pejabat baru The Fed ini telah memudarkan ekspektasi tersebut, mendorong penguatan indeks dolar AS. Prospek bahwa The Fed mungkin mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama membuat dolar menjadi aset yang lebih menarik, sehingga secara alami menekan nilai tukar mata uang lain, termasuk rupiah.
“Dengan demikian, kekhawatiran global terhadap arah kebijakan moneter AS menjadi salah satu pemicu utama,” ujar dia.
Baca Juga
Tekanan Eksternal dan Pemangkasan BI Rate Dorong Rupiah Terkoreksi
Di sisi lain, faktor-faktor domestik di Indonesia juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pelemahan rupiah. BI telah mengambil langkah-langkah pelonggaran moneter dengan memangkas suku bunga, sebuah kebijakan yang bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Akan tetapi, langkah ini justru membuat rupiah kurang menarik bagi investor yang mencari imbal hasil yang lebih tinggi. Selain itu, pasar juga mencermati berbagai isu domestik, seperti kekhawatiran atas independensi BI setelah peran "berbagi beban" dengan pemerintah dan rencana fiskal yang lebih ekspansif di bawah pemerintahan baru, termasuk target defisit anggaran yang sedikit lebih tinggi dari perkiraan awal.
“Semua ini menambah persepsi risiko yang mengikis kepercayaan pasar terhadap stabilitas mata uang domestik,” ujar dia.

