Menkeu Purbaya Sebut Keseimbangan Primer Positif Jadi Indikasi Perlu Akselerasi Belanja Pusat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa keseimbangan primer APBN 2025 hingga 31 Agustus 2025 masih mencatat angka positif sebesar Rp22 triliun. Menurutnya, kondisi ini justru menjadi indikasi adanya perlambatan realisasi belanja pemerintah pusat.
“Kalau dilihat dari sini sih, harusnya keseimbangan primer negatif,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA edisi September 2025 di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (22/9/2025). Ia menambahkan, “Indikasinya adalah musti ada belanja pemerintah pusat yang dipercepat lagi. Supaya keseimbangan primer sesuai desain sesuai 2025.”
Secara keseluruhan, posisi APBN per 31 Agustus 2025 mencatat defisit sebesar Rp321,6 triliun atau setara 1,35% dari produk domestik bruto (PDB). Berdasarkan outlook APBN 2025, defisit dirancang meningkat menjadi Rp662 triliun atau sekitar 2,76% dari PDB.
Baca Juga
Menkeu Purbaya Tak Ingin Ubah Batas Defisit di UU Keuangan Negara
Hingga akhir Agustus, pendapatan negara tercatat Rp1.638,7 triliun atau 57,2% dari target outlook 2025 sebesar Rp2.865,5 triliun. Di sisi lain, belanja negara mencapai Rp1.960,3 triliun atau 55,6% dari outlook APBN 2025 yang ditetapkan Rp3.527,5 triliun.
Dengan capaian tersebut, keseimbangan primer yang masih positif menunjukkan adanya ruang percepatan realisasi belanja.
Pemerintah berkomitmen untuk mengakselerasi belanja pusat guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus memastikan APBN 2025 berjalan sesuai desain.

