Investor Cermati Deflasi China, Rupiah Tetap di Zona Hijau
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah menguat tipis pada Kamis pagi (11/9/2025) seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap sebagian mata uang di kawasan Asia. Penguatan ini terjadi setelah investor mencermati data inflasi China yang kembali memasuki deflasi, menambah kekhawatiran perlambatan ekonomi global.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 6 poin atau 0,03% menjadi Rp 16.464 per dolar AS. Di saat yang sama, dolar AS menguat terhadap yuan China 0,01%, terhadap dolar Singapura 0,05%, dan terhadap ringgit Malaysia 0,08%.
Baca Juga
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan pergerakan rupiah pada Kamis akan berada di kisaran stabil dengan kecenderungan menguat, mengikuti sentimen regional.
“Investor asing membukukan arus keluar bersih sebesar Rp 1,3 triliun. Namun, penguatan rupiah menunjukkan pasar masih merespons positif kombinasi faktor eksternal dan domestik,” kata Andry.
Inflasi China
Data inflasi China pada Agustus 2025 menunjukkan deflasi 0,4% secara tahunan (year-on-year/yoy). Kondisi ini memunculkan kekhawatiran lemahnya permintaan domestik di ekonomi terbesar kedua dunia, yang berpotensi menahan laju pemulihan ekonomi global. “Tekanan harga yang berkelanjutan di China akan berpengaruh ke rantai pasok dan harga komoditas dunia, termasuk yang memengaruhi ekspor Indonesia,” jelas Andry.
Baca Juga
Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,9% ke 7.699 setelah melemah selama 2 hari sebelumnya. Nilai transaksi harian tercatat Rp 14,5 triliun. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun 1,7 basis poin ke level 6,4%, mencerminkan minat beli investor di pasar surat utang.
Data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus 2025 yang berada di level 117,2 juga memberi sinyal positif. Level ini menunjukkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi, yang mendukung stabilitas konsumsi rumah tangga.

