Perbanas Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi RI di Kisaran 4,8% Plus Minus 0,1% di 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 berkisar antara 4,8% ± 0,1% year on year (yoy), dengan inflasi yang tetap rendah pada level 1,9% ± 0,5% yoy, dan nilai tukar rupiah diprediksi stabil di kisaran Rp 16.300–Rp 16.700 per dolar AS.
Proyeksi ini disampaikan Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi dalam acara Konferensi Pers Perbanas Review of Indonesia’s Mid-Year Economy (PRIME 2025) bertajuk "Navigating Economic Headwinds: Responding to Weakening Consumption" di Le Meridien Hotel, Jakarta, Kamis (31/7/2025).
"Kondisi ini membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter, meski tantangan likuiditas masih membayangi. Mengingat, proyeksi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang relatif rendah, hanya sekitar 4,38% ± 1% yoy, sedangkan pertumbuhan kredit sebesar 8,7% ± 1% yoy," ujar Hery.
Baca Juga
Hery Gunardi Jadi Ketum PERBANAS, Berikut Harapan Kartika Wirjoatmodjo
Dalam kesempatan ini, Hery menekankan lima pilar utama perekonomian yang saling berkaitan, yakni inflasi dan daya beli, transmisi kebijakan moneter, kinerja sektor strategis, pertumbuhan kredit dan DPK, serta stabilitas nilai tukar. Berdasarkan data kuartal I dan II-2025, Hery menilai bahwa penurunan suku bunga global dan inflasi yang sangat rendah sejatinya membuka ruang untuk ekspansi usaha.
Namun, secara bersamaan hal itu dapat memengaruhi efisiensi penghimpunan dana masyarakat.
“Tren inflasi rendah dan suku bunga yang melandai membuka peluang sekaligus tantangan bagi perbankan. Kita mesti memanfaatkan momentum ini mendorong pertumbuhan, namun kita harus tetap waspada terhadap perlambatan yang sedang terjadi dan memastikan strategi kredit kita adaptif terhadap perubahan ekonomi,” ungkap Hery.
Baca Juga
Direktur Utama BRI Hery Gunardi Terpilih Menjadi Ketua Umum PERBANAS Periode 2024–2028
Sementara itu, Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi dan Perbankan Perbanas Aviliani menekankan bahwa pertumbuhan kredit harus diarahkan pada sektor padat karya, seperti pertanian. Kemudian, pertumbuhan kredit harus diarahkan pada sektor bernilai tambah tinggi, seperti manufaktur dan infokom, dengan potensi penguatan struktural jangka panjang.
Aviliani mencatat bahwa sektor pertambangan diproyeksikan tumbuh 23,4%, listrik/gas/air sebesar 14,9%, serta informasi dan komunikasi sekitar 10%. Namun, Aviliani juga mengingatkan bahwa beberapa sektor seperti transportasi mengalami perlambatan signifikan dan perlu pendekatan kredit yang lebih cermat.
“Kita harus cermat dalam menyalurkan kredit, mengedepankan kualitas dan selektivitas. Fokus pada sektor unggulan dan esensial seperti pertanian, manufaktur, pertambangan dan energi, serta infokom akan memperkuat portofolio kita, namun tidak lupa menjaga dukungan bagi konsumsi masyarakat agar momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga,” jelas Aviliani.

