BPS Sebut Beras, Rokok, dan Telur Penyumbang Utama Garis Kemiskinan Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komoditas makanan di perkotaan dan perdesaan memberi sumbangan mencapai 74,58% terhadap garis kemiskinan.
“Lebih besar dibandingkan komoditas bukan makanan yang peranannya sebesar 25,42%” kata Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono, dalam rilis data Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2025, di kantor pusat BPS, Jakarta, Jumat (25/7/2025).
Baca Juga
Rilis Data Kemiskinan Mundur, Komisi X Minta Data Disampaikan Secara Terbuka
Berdasarkan data BPS, beras menjadi penyumbang terbesar garis kemiskinan sebesar 21,06% di perkotaan dan 24,91% bagi garis kemiskinan di perdesaan. Selain itu, rokok kretek filter menjadi penyumbang besar lainnya. Komoditas ini memberi sumbangan 10,72% bagi garis kemiskinan di perkotaan dan 9,99% di perdesaan.
Komoditas ketiga yang menyumbang garis kemiskinan di perkotaan dan perdesaan yaitu telur ayam ras. Komoditas ini menyumbang sebesar 4,5% untuk perkotaan dan 3,62% untuk perdesaan.
Baca Juga
BPS Sebut Penundaan Perilisan Data Kemiskinan Karena ingin Selaraskan dengan Standar Data Bank Dunia
Tiga komoditas dari sektor bukan makanan yang memberi sumbangan bagi garis kemiskinan di perdesaan dan perkotaan yaitu perumahan, bensin, dan listrik. Biaya perumahan menyumbang kenaikan garis kemiskinan sebesar 9,11% untuk perkotaan dan 8,99% untuk perdesaan, bensin menyumbang 3,06% untuk perkotaan dan 3,03% untuk perdesaan, serta listrik sebesar 2,58% untuk perkotaan dan 1,52% untuk perdesaan.
BPS menetapkan garis kemiskinan rumah tangga pada Maret 2025 sebesar Rp 609.160 per kapita per bulan. Bisa dikatakan, dengan rata-rata anggota rumah tangga miskin sebesar 4,72 orang, garis kemiskinan rumah tangga miskin sebesar Rp 2,875 juta per rumah tangga per bulan. Angka tersebut naik 2,56% dibanding September 2024 yang sebesar Rp 2,803 juta.

