Hanif Dhakiri Minta Pemerintah Rajin Hitung Elastisitas Penciptaan Lapangan Kerja Mulai 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Ketua Komisi XI DPR, Muhammad Hanif Dhakiri, meminta kepada pemerintah agar rajin memantau dan menghitung indikator elastisitas penciptaan kerja mulai tahun 2026. Ia pun mengusulkan agar indikator tersebut dapat dimasukkan dalam asumsi dasar makro ekonomi untuk tahun 2026 yang kini tengah dibahas DPR bersama pemerintah.
"Ada satu indikator yang menurut saya ini perlu nanti menjadi pertimbangan kita bersama untuk masuk di dalam salah satu indikator makro ekonomi, namanya elastisitas penciptaan kerja sehingga ini nanti harus kita ukur dan sama-sama kita kawal dari awal sejak dari asumsi makro ekonomi," katanya dalam rapat kerja pembahasan asumsi makro bersama pemerintah di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (4/7/2025) malam.
Menurut Hanif, pemerintah harus serius untuk mewujudkan target Presiden Prabowo Subianto yang ingin menciptakan 19 juta lapangan pekerjaan selama lima tahun atau sebanyak 3,8 juta tiap tahunnya.
"Saya mau tegaskan di sini adalah bahwa berarti pertumbuhan yang kita kejar ini bukan semata-mata pertumbuhan melainkan pertumbuhan yang menyerap pertumbuhan yang inklusif," ujarnya.
Ia mengkhawatirkan apabila indikator elastisitas penciptaan kerja tidak dikawal sejak asumsi dasar makro ekonomi, bukan tidak mungkin pembukaan 19 juta lapangan kerja bakal meleset. Ia pun menyayangkan apabila pertumbuhan ekonomi yang dikejar oleh pemerintah nantinya tidak didukung dengan kehadiraan penciptaan lapangan pekerjaan.
Hanif mengatakan indikator serupa telah digunakan di sejumlah negara maju di Eropa, Amerika Serikat dan Australia.
"Saya ingin usul yang konkret, yaitu usul agar indikator mengenai elastisitas penciptaan kerja dimasukkan secara eksplisit sebagai bagian dari asumsi makro ekonomi. Ini nanti akan jadi pengukur apakah pertumbuhan benar-benar menciptakan pekerjaan," jelasnya.
Baca Juga
Lapangan Kerja Seret dan Persoalan 'Skill', Menaker Beberkan Solusi Jitu Hadapi Pengangguran
Tiga Argumen Pendukung Indikator Elastisitas Penciptaan Pekerjaan
Menurut legislator Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) itu setidaknya ada tiga argumen yang membuat indikator elastisitas penciptaan pekerjaan ini layak untuk dimasukkan ke dalam asumsi makro ekonomi tahun 2026.
Pertama, ia mencontohkan bagaimana tingkat inflasi yang dikawal secara bersama oleh pemerintah dari tingkat pusat dan daerah sehingga angkanya dapat terus terjaga dalam kisaran.
"Jadi kalau saya bayangkan ini bisa kita kepung, kita jaga bersama-sama ini pasti juga angkanya akan tercapai," katanya.
Argumen kedua, ia menyebut usulan indikator ini sangat relevan dengan target dan arahan dari Prabowo soal penciptaan 19 juta lapangan kerja dalam kurun waktu lima tahun. "Hal ini untuk memastikan agar pertumbuhan yang dikejar, itu benar-benar pertumbuhan yang inklusi, pertumbuhan yang benar-benar bisa menciptakan lapangan kerja," ungkapnya.
Dan argumen ketiga, lanjutnya, indikator ini pada akhirnya akan memaksa terjadinya sinergi antara lintas sektor. Lebih jauh, dengan masuknya indikator penciptaan kerja pada asumsi dasar makro ekonomi nantinya akan membuat desain kebijakan fiskal diarahkan menyasar job creation.
Ia meyakini apabila indikator penciptaan kerja ini dikawal bersama oleh pemerintah pusat dan daerah lintas sektor, target 19 juta lapangan kerja oleh Prabowo menjadi sangat mungkin untuk dicapai.
"Saya percaya bahwa kalau ini dikeroyok bareng-bareng oleh pemerintah daerah, oleh BI dan seluruh entitas yang terkait, saya percaya bahwa kemudian penciptaan lapangan pekerjaan ini bisa kita jaga. Sehingga pertumbuhan kita benar-benar berkualitas dan benar-benar inklusif," ungkapnya.

