Indeks Dolar Rebound, Bagaimana Nasib Rupiah?
JAKARTA, investortrust.id - Indeks dolar Amerika Serikat rebound Selasa ini (15/04/2025), bagaimana nasib kurs rupiah terhadap dolar AS? Faktor apa saja yang memengaruhi?
Berdasarkan data tradingview, indeks dolar AS mulai menggeliat setelah tertekan sepekan perdagangan ini akibat dampak gejolak perang tarif tinggi yang dilancarkan Presiden AS Donald Trump dan Cina meretaliasi sengit. Seiring kemudian relaksasi kebijakan tarif Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping tidak akan menaikkan lagi tarif impor barang AS meski Trump nanti menambah tarif produk RRT, DXY mulai merambat naik. Pada pukul 09.07 WIB, indeks dolar AS bergerak ke level 99,88, menguat 0,243 poin atau 0,24%.
Penguatan DXY berdampak menekan rupiah sehingga berbalik melemah ke level Rp 16.789 per dolar AS. Mata uang Garuda terdepresiasi 20 poin atau 0,12% pada pukul 09.15 WIB hari ini. Padahal, sepekan terakhir, rupiah mulai merangkak naik 0,33%. Alhasil, selama year to date, rupiah terdepresiasi 3,96%.
"AS rencana melakukan penundaan (pengenaan tarif tinggi hingga 145% untuk produk Cina) terhadap barang-barang elektronik dari Cina," kata pengamat pasar modal Reza Priyambada, Selasa (15/04/2025).
Namun, produk-produk seperti smartphone dan laptop dari RRT tersebut mungkin masih akan dikenakan tarif sebesar 20%, terkait dengan kebijakan pengendalian perdagangan fentanil yang masuk ke AS. AS menuduh Cina terkait dengan perdagangan ini dan tidak cukup dalam melakukan tindakan memeranginya.
Fentanil telah menjadi salah satu penyebab utama dalam krisis overdosis narkoba di Amerika Serikat. Pada tahun 2023 saja, lebih dari 70.000 kematian di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu dikaitkan dengan overdosis fentanil. Karena bahayanya yang luar biasa, pemerintah AS sangat serius dalam melawan peredaran fentanil ilegal.
Baca JugaPemerintah Berencana Kurangi PPN, BM, dan PPh Impor, serta Bea Keluar CPO
Net Capital Outflows
Dari dalam negeri, aliran dana asing tercatat masih keluar dari pasar keuangan Indonesia. Kemarin, asing masih mencatatkan net sell saham Rp 2,32 triliun. Non-resident juga mencatatkan penjualan neto di pasar Surat Berharga Negara (SBN) berdasarkan data terbaru DJPPR Kemenkeu sebesar Rp 2,14 triliun, pada 11 April 2025.
Dengan demikian, secara month to date, asing sudah mencatatkan jual bersih Rp 8,26 triliun dan secara year to date Rp 38,18 triliun hingga kemarin. Di pasar SBN, secara month to date, asing sudah mencatatkan net sell Rp 4,31 triliun, namun secara year to date masih net buy Rp 10,92 triliun hingga 11 April 2025.
Uang Primer (M0) Adjusted Melonjak 21,8%
Dari dalam negeri, Bank Indonesia merilis Uang Primer (M0) Adjusted pada Maret 2025 tumbuh lebih tinggi. Pertumbuhan M0 Adjusted pada Maret 2025 meningkat dari 13,0% (yoy) pada Februari 2025 menjadi 21,8% (yoy) sehingga menembus Rp2.052,5 triliun.
"Perkembangan ini didorong oleh pertumbuhan uang kartal yang diedarkan sebesar 15,5% (yoy) dan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 18,1% (yoy). Berdasarkan faktor yang mempengaruhinya, peningkatan M0 Adjusted dipengaruhi pengendalian moneter yang sudah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas (adjusted pengendalian moneter). Dari perkembangan ini, perkembangan uang primer (M0) Maret 2025 tercatat tumbuh 15,8% (yoy) setelah pada Februari 2025 tumbuh 5,2% (yoy)," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan di Jakarta, dikutip Selasa 15 April 2025.
Ia menjelaskan, Uang Primer (M0) Adjusted menggambarkan perkembangan uang primer yang telah mengisolasi dampak penurunan giro bank di Bank Indonesia akibat pemberian insentif likuiditas. Mulai Januari 2025, Bank Indonesia memberikan gambaran lebih lengkap terhadap perkembangan uang primer dengan juga menunjukkan angka M0 adjusted.
"BI memberikan gambaran lebih lengkap terhadap perkembangan uang primer dengan juga menunjukkan angka M0 adjusted. Ini untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi likuiditas, termasuk kondisi likuiditas yang telah mengakomodasi dampak kebijakan insentif likuiditas," papar Denny.
Baca Juga
Laba Melonjak 94,3%, Bumi Serpong Damai Pertahankan Momentum Pertumbuhan

