Sri Mulyani Harap Subsidi Minyak di Indonesia Bisa Lebih Rendah Seiring Tekanan Ekonomi Global
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap subsidi minyak di dalam negeri bisa ditekan seiring dengan tren penurunan harga minyak dunia dan tekanan ekonomi global yang terus meningkat.
Ia menyebut bahwa tekanan di pasar keuangan dunia belakangan ini bukan fenomena baru. Imbal hasil surat utang negara Amerika Serikat (US Treasury) tenor dua dan 10 tahun mengalami pelemahan karena dianggap sebagai instrumen safe haven. Namun, indeks dolar AS juga tercatat melemah, menandakan kepercayaan penuh terhadap dolar mulai terkikis.
“Sementara fixed index yaitu volatility juga meningkat, tapi kalau kita bandingkan saat Covid, kenaikannya masih relatively manageable. Tapi ini menggambarkan suasana atau alarmnya berbunyi, jadi kita harus juga tetap hati-hati tanpa panik,” ujar Sri Mulyani, dalam Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Republik Indonesia, yang digelar di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (8/4/2025).
Baca Juga
Harga Minyak Naik 1% Setelah Aksi Jual Hebat Akibat tarif AS
Selain itu, lanjut dia, lembaga keuangan besar dunia seperti JP Morgan dan Goldman Sachs memperkirakan potensi resesi di AS meningkat, dengan probabilitas resesi sekarang naik ke 60%, dari sebelumnya di bawah 50%.
Dengan outlook negatif tersebut, berpengaruh langsung terhadap harga komoditas global. Permintaan yang diprediksi menurun menyebabkan harga-harga bahan mentah juga ikut terkoreksi. Sri Mulyani mengatakan, harga minyak saat ini berada di kisaran US$ 64-65 per barel, jauh di bawah asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang mematok harga minyak di US$ 80 per barel.
Baca Juga
Harga Minyak Terendah dalam 4 Tahun karena Perang Dagang dan Sentimen Arab Saudi
“Jadi ini berarti nanti subsidi lebih rendah. Kemudian kita tetap jaga ini juga membuat APBN kita relatively lebih berkurang tekanannya meskipun nilai tukar kita diatas dari asumsi,” katanya.
Di lain sisi, sejumlah komoditas menunjukkan performa beragam. Harga crude palm oil (CPO) justru membaik dan memberikan dampak positif pada penerimaan negara. Sementara itu, harga tembaga masih cukup stabil, namun nikel mengalami penurunan, dan batu bara (coal) dinilai masih ‘struggle’ karena sudah berada di bawah US$ 100 per ton
“Aktivitas manufacturing saat ini masih ekspansi tapi tipis, saat ini di 53. Kemarin kita sempat turun tapi kemudian kita naik secara cepat sekali, ini menggambarkan cukup resilience sektor manufaktur di Indonesia,” ucap Sri Mulyani.

