Rupiah Ditutup Tergelincir Senin
JAKARTA, investortrust.id - Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah ditutup tergelincir tipis 3 poin (0,01%) ke level Rp 16.303 per dolar Amerika Serikat, pada Senin (24/2/2025). Sementara dalam perdagangan di pasar spot valas yang dirilis Yahoo Finance, mata uang Garuda bergerak menguat signifikan 30 poin (0,18%) ke level Rp 16.270 per dolar AS, dibanding hari sebelumnya di posisi Rp 16.300 per dolar AS.
Pergerakan rupiah ini diwarnai momen Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Presiden Prabowo telah menandatangani UU Nomor 1 Tahun 2025 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (24/02/2025), serta menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2025 tentang Organisasi dan Tata Kelola Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
Ealuasi awal terhadap sovereign wealth fund terbaru Indonesia ini menunjukkan bahwa Aset Dalam Pengelolaan (AUM) Danantara melebihi US$ 900 miliar. Ini setara sekitar Rp 14.700 triliun.
Sentimen Ekonomi AS
Hal ini mendorong meningkatnya kekhawatiran bahwa belanja swasta AS -- yang merupakan pendorong utama ekonomi terbesar di dunia tersebut -- melambat, di tengah tekanan dari inflasi yang kuat dan suku bunga yang relatif tinggi. Selain itu, lanjut dia, semua mata tertuju pada kemajuan pembicaraan untuk mengakhiri perang Rusia di Ukraina, yang memasuki tahun keempat pada hari Senin.
Para pejabat mengatakan pada hari Minggu bahwa para pemimpin Uni Eropa akan bertemu untuk pertemuan puncak luar biasa pada 6 Maret, guna membahas dukungan tambahan untuk Ukraina dan jaminan keamanan Eropa. "Ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memulai pembicaraan dengan Rusia untuk mengakhiri perang, tetapi tanpa mengundang Ukraina atau Uni Eropa ke meja perundingan," ujarnya.
Prabowo mengatakan, Danantara akan mengelola dana senilai Rp 300 triliun atau sekitar US$ 20 miliar, hasil 'disiplin' keuangan yang ketat dalam 100 hari pertama pemerintahannya. "Disiplin keuangan yang dimaksud adalah efisiensi anggaran di berbagai bidang, yang dilakukan oleh pemerintahan Prabowo," kata pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam keterangan di Jakarta, Senin (24/02/2025).
Ealuasi awal terhadap sovereign wealth fund terbaru Indonesia ini menunjukkan bahwa Aset Dalam Pengelolaan (AUM) Danantara melebihi US$ 900 miliar. Ini setara sekitar Rp 14.700 triliun.
"Dana Rp 300 triliun yang disampaikan Prabowo adalah pendanaan awal proyek investasi yang dikelola Danantara. Prabowo dalam pidatonya menjabarkan bahwa dana tersebut akan dialokasikan untuk 20 plus proyek nasional, sebagai bagian dari industrialisasi dan hilirisasi Indonesia," paparnya.
Gelombang pertama investasi Danantara akan difokuskan kepada proyek-proyek hilirisasi mineral seperti nikel, bauksit, dan tembaga. Selain itu, proyek lain seperti pembangunan pusat data, kecerdasan buatan, kilang minyak, hingga energi terbarukan.
Sentimen Ekonomi AS
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka itu menjelaskan penghindaran risiko meningkat, karena PMI jasa AS yang lebih lemah dari perkiraan. Ini ditambah pembacaan yang lemah pada sentimen konsumen memicu kekhawatiran bahwa belanja swasta melambat.
"Data tersebut muncul hanya seminggu setelah penjualan ritel yang lebih lemah dari perkiraan untuk bulan Januari," ungkapnya.
Hal ini mendorong meningkatnya kekhawatiran bahwa belanja swasta AS -- yang merupakan pendorong utama ekonomi terbesar di dunia tersebut -- melambat, di tengah tekanan dari inflasi yang kuat dan suku bunga yang relatif tinggi. Selain itu, lanjut dia, semua mata tertuju pada kemajuan pembicaraan untuk mengakhiri perang Rusia di Ukraina, yang memasuki tahun keempat pada hari Senin.
Para pejabat mengatakan pada hari Minggu bahwa para pemimpin Uni Eropa akan bertemu untuk pertemuan puncak luar biasa pada 6 Maret, guna membahas dukungan tambahan untuk Ukraina dan jaminan keamanan Eropa. "Ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memulai pembicaraan dengan Rusia untuk mengakhiri perang, tetapi tanpa mengundang Ukraina atau Uni Eropa ke meja perundingan," ujarnya.

