Berapa Keuntungan Investasi di AS, Mengapa Asing Net Sell Saham dan SBN?
JAKARTA, investortrust.id – Dana asing masih lanjut keluar dari pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia. Masing-masing mencatatkan transaksi harian net sell Rp 0,79 triliun pada Kamis (20/02/2025) dan Rp 0,08 triliun pada Selasa (18/02/2025). Hal ini seiring imbal hasil investasi di dalam negeri yang trennya turun, kalah menguntungkan dibanding di Amerika Serikat.
Aksi jual di Bursa Efek Indonesia itu membuat asing menambah akumulasi penjualan bersih saham month to date Rp 7,27 triliun. “Sedangkan secara year to date, asing mencatatkan net sell mencapai Rp 10,98 triliun,” papar BEI dalam keterangan di Jakarta, Kamis sore.
Baca Juga
Sedangkan di pasar SBN, data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi Selasa. Non-resident di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan mencatatkan penjualan neto Rp 0,08 triliun.
Namun, secara month to date, asing masih mencatatkan pembelian bersih Rp 3,66 triliun hingga Selasa. Sedangkan akumulasi year to date tercatat net buy Rp 8,31 triliun hingga Selasa.
Imbal Investasi SBN-Saham RI Kalah
Sementara itu, seiring dengan langkah-langkah serius Presiden baru Amerika Serikat Donald Trump untuk perbaikan menyeluruh ekonomi, iklim usaha, dan sumber daya manusianya, imbal hasil di negeri Paman Sam semakin menarik. Potensi return investasi di negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu jauh meninggalkan Indonesia.
Dalam sekitar satu dekade terakhir hingga 10 Februari lalu, potensi imbal hasil investasi di saham RI tercatat justru trennya menurun, setelah mencapai puncak pada September 2024, kini menjadi sebesar 53%. Imbal hasil ini kalah jauh dari emas 138%, SBN RI 152,4%, saham AS 170%, dan obligasi swasta 184,6%, berdasarkan data yang diolah Riset Investortrust.id.
Analis pasar modal Reza Priyambada mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi sentimen negatif di pasar modal Indonesia. "Di tengah keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia mempertahankannya BI Rate pada level 5,75% kemarin, rupiah (berbalik) melemah," ujarnya di Jakarta, Kamis (20/02/2025).
Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI) ini menjelaskan, usai keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) pun ditutup di level 6,794.87 Rabu (19/02/2025) sore, terpangkas 1,14%. Pelemahan cukup dalam ini dipimpin oleh saham-saham sektor financials dengan indeks anjlok 1,78% dan infrastructure turun 0,85%. Sementara itu, asing membukukan net sell mencapai Rp 963,57 milliar di pasar reguler.
Penurunan indeks di BEI pun berlanjut pada Kamis ini, seiring asing kembali melego saham dan rupiah kembali menembus level psikologis US$ 16.300 per dolar AS lebih. IHSG kembali terkikis 0,10% ke 6.788,04, makin jauh meninggalkan level psikologis 7.000.
Baca Juga

