Pendapatan Pertamina US$ 75 Miliar/Tahun Sejak Transformasi
JAKARTA, investortrust.id - PT Pertamina (Persero) mencatatkan rata-rata pendapatan (revenue) sebesar US$ 75 miliar per tahun, pascatransformasi organisasi di tahun 2021 hingga 2024. Wakil Direktur Utama Pertamina Wiko Migantoro memaparkan, sejak 2021, perusahaan melaksanakan transformasi organisasi menjadi holding-subholding, sehingga lebih lean dan agile untuk bisa memberikan dampak kinerja positif.
“Organisasi kami sekarang mengelola aset dengan nilai sekitar US$ 90 miliar. Revenue sesuai dengan data yang kami miliki pada akhir tahun 2024 sebesar US$ 75 miliar, dan capex yang kami spending US$ 7 miliar,” kata Wiko dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR, Jakarta, Kamis (20/2/2025).
Baca Juga
Insentif Likuiditas Makroprudensial ke Perumahan Naik Tembus Rp 80 Triliun
Tertinggi US$ 84,9 Miliar
Wiko menyebutkan revenue Pertamina dari tahun ke tahun selama tiga tahun ke belakang tumbuh 15%. Tahun 2022, revenue mencapai angka tertinggi US$ 84,9 miliar.
“Banyak faktor penyebabnya, terutama karena harga minyak pada saat itu US$ 97 per barel. Namun, secara growth kita bisa melihat tiga tahun terakhir ini tumbuh 15%,” ujar dia.
Baca Juga
Parameter kinerja lain dari Pertamina yang disebut Wiko juga menggembirakan adalah Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) juga terus tumbuh. Di akhir 2023, EBITDA Pertamina berada di angka US$ 14,4 miliar. Kemudian, laba bersih juga tumbuh, mencapai US$ 4,4 miliar di 2023.
Wiko mengungkapkan kinerja baik Pertamina ini berasal dari masing-masing subholding. Sebagai contoh, kinerja operasional di sektor hulu produksi minyak dan gas bumi (migas) tumbuh 8% selama tiga tahun terakhir dari 2021-2023, yang mencatatkan milestone baru bagi perusahaan.
“Pada masa ini subholding juga memproduksi di hulu tembus di angka 1 juta barrel oil equivalent per day (BOEPD). Ini dikontribusi oleh lapangan baru kita, terutama di Rokan dan juga ada aset di luar negeri,” beber Wiko.

