4 Asumsi Ekonomi Makro Meleset dari Target, Inflasi Terkendali
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan realisasi asumsi ekonomi makro yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024. Empat dari asumsi makro yang ditetapkan pemerintah meleset dari target, sedangkan untuk asumsi inflasi dinilai sesuai target.
Empat asumsi makro yang meleset dari target yaitu pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun, dan Indonesian Crude Price (ICP) atau harga minyak mentah Indonesia. Sementara itu, dua asumsi makro yaitu lifting minyak dan gas masih dalam catatan sementara.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2024 sebesar 5% secara tahunan. Angka ini di bawah asumsi makro APBN 2024 sebesar 5,2% secara tahunan.
“Untuk pertumbuhan ekonomi, kami memperkirakan outlook-nya di 5%. Pertumbuhan di kuartal I-2024 sebesar 5,11% (secara tahunan), kuartal II-2024 di 5,05 (secara tahunan), kuartal III-2024 di 4,95% (secara tahunan), dan kuartal IV-2024 belum keluar tapi kami estimasi di sekitar 5%,” kata Sri Mulyani saat paparan APBN Kita, di kantornya, Jakarta, Senin (6/1/2025).
Baca Juga
Pendapatan Negara Naik 2,1% ke Rp 2.842,5 Triliun, Belanja Melonjak 7,3% ke Rp 3.350,3 Triliun
Asumsi nilai tukar rupiah yang ditetapkan sebesar Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat juga tidak tercapai. Sri Mulyani menjelaskan hal itu karena berbagai faktor global, keputusan mengenai Feds Fund Rate (FFR), dolar menguat, dan capital outflow mengalami deviasi.
“Asumsi nilai tukar rupiah yang tadinya Rp 15.000 per dolar, realisasinya di Rp 16.162 per dolar,” kata dia.
Sementara itu, untuk imbal hasil SBN 10 tahun yang sempat mengalami tekanan menjadi di atas 7% pada pertengahan 2024 kembali bisa stabil. Tetapi, kondisi ini menunjukkan imbal hasil SBN 10 tahun di atas asumsi makro yang ditargetkan sebesar 6,7%.
Baca Juga
Harga minyak yang sempat melonjak karena eskalasi geopolitik mendekati US$ 90 per barel, belakangan, kembali mengalami koreksi. Sehingga, pada keseluruhan tahun 2024, harga minyak turun ke US$ 71,6 per barel.
“Ini lebih rendah dari asumsi yang US$ 82 per barel,” kata dia.
Untuk lifting minyak dan gas, Sri Mulyani menyebut realisasi yang tercatat masih sementara yaitu per bulan November 2024. Pada bulan tersebut, lifting migas di bawah target asumsi makro APBN 2024.
Lifting minyak ditargetkan mencapai 635 ribu barel per hari (bph), namun realisasinya hanya tercapai 571,7 ribu bph. Sementara, lifting gas ditargetkan 1.033 ribu barel setara minyak per hari (bsmph), namun realisasinya hanya mencapai 973 ribu bsmph.
Sri Mulyani mengatakan asumsi makro untuk inflasi dalam kisaran target. Inflasi diasumsikan pada APBN 2024 sebesar 2,8% secara tahunan.
“Sempat lebih tinggi dari itu di bulan April 2024 yaitu 3,1% (secara tahunan). Tapi, kemudian bisa kami stabilkan, di 2024 inflasi 1,57% secara tahunan atau di bawah asumsi (inflasi terjaga baik),” ujar dia.

