Pendapatan Negara Tembus Rp 2.842,5 Triliun Melebihi Target, Pajak Shortfall
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan pendapatan negara pada 2024 tercatat naik 2,1% secara tahunan, berdasarkan data sementara. Kinerja positif ini terjadi setelah pada semester II keluar dari tekanan ekonomi global, dan akhirnya pendapatan negara mencapai Rp 2.842,5 triliun atau melebihi target APBN.
“Salah satu tekanan luar biasa pada semester I-2024 dipicu El Nino yang mulai terjadi sejak Desember 2023, yang dampaknya menciptakan kekeringan panjang yang meningkatkan harga pangan dunia. Namun, APBN 2024 bisa kita tutup dengan jauh lebih baik dari prediksi di pertengahan tahun,” kata Sri Mulyani saat menyampaikan APBN Kita, di kantornya, Jakarta, Senin (6/1/2025).
Baca Juga
Pendapatan Negara Naik 2,1% ke Rp 2.842,5 Triliun, Belanja Melonjak 7,3% ke Rp 3.350,3 Triliun
Sri Mulyani menjelaskan pendapatan negara yang tumbuh 2,1% year on year bukanlah hal yang mudah. Setelah terjadi lonjakan harga komoditas pada 2022 dan 2023, pada akhir 2023 dan 2024, terjadi kondisi yang berat karena penurunan harga komoditas telah terjadi. Pada 2022 dan 2023, pendapatan negara melonjak sehingga defisit di 2023 bisa ditekan di 1,61% terhadap produk domestik bruto (PDB) secara tahunan.
“Namun teman-teman di Ditjen Pajak, Ditjen Bea dan Cukai, dan yang menangani PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) tetap bisa menjaga. Sehingga, pendapatan negara kita masih tumbuh dari 2023,” kata dia.
Penerimaan Pajak Tak Capai Target
Realisasi sementara pendapatan negara pada 2024 tercatat sebesar Rp 2.842,5 triliun atau 101% dari target APBN 2024 sebesar Rp 2.802,3 triliun. Realisasi pendapatan ini ditopang oleh Penerimaan Negara Bukan Pajak yang tercatat Rp 579,5 triliun atau 117,8% dari APBN 2024. Sementara, penerimaan pajak dan cukai mengalami shortfall atau di bawah target.
Penerimaan pajak tercatat Rp 1.932,4 triliun atau di bawah target Rp 1.988,9 triliun. Penerimaan negara dari kepabeanan dan cukai juga hanya Rp 300,2 triliun, dari target Rp 321 triliun.
Belanja Melebihi Target
Dari sisi pengeluaran, Sri Mulyani menyebut terjadi kenaikan belanja negara dari target APBN 2024 yang sebesar Rp 3.325,1 triliun. Realisasi belanja negara tercatat Rp 3.350,3 triliun atau tumbuh 7,3% secara tahunan.
“Komponen terbesar dari belanja adalah belanja kementerian/lembaga (K/L). Belanja K/L melonjak,” ujar dia.
Sri Mulyani mengatakan APBN 2024 awalnya merancang belanja K/L sebesar Rp 1.090, 8 triliun. Tetapi, realisasinya, belanja K/L mengalami kenaikan hingga 120,6% yaitu Rp 1.315 triliun.
“Naiknya Rp 200 triliun lebih di realisasi belanja K/L. Memang sebagian adalah perpindahan dari belanja non-K/L, namun juga karena beberapa belanja K/L mengalami kenaikan,” ucap dia.
Belanja non-K/L, kata Sri Mulyani, tetap terjaga di Rp 1.171,7 triliun. Ini berada di bawah target APBN 2024 yang sebesar Rp 1.376,7 triliun atau hanya 85,1%.
“Lebih rendah dari APBN awal dan outlook yang sempat kami prediksi Rp 1.359,4 triliun,” ujar dia.
Kenaikan tertinggi juga tercatat pada transfer ke daerah yang tecatat sebesar Rp 863,5 triliun. Ini sebesar 100,7% dari target APBN 2024 sebesar Rp 857,6 triliun.
Baca Juga
Dengan kondisi seperti ini, lanjut Menkeu, defisit APBN 2024 tercatat sebesar Rp 507,8 triliun atau 2,29% dari produk domestik bruto RI. “Ini sangat impresif, karena tidak hanya lebih rendah dari saat menyampaikan laporan semester (lapsem) yang kita prediksi memburuk, namun juga lebih rendah dari APBN awal Rp 522,8 triliun,” kata dia.
Sri Mulyani juga menyebut defisit keseimbangan primer mencapai Rp 19,4 triliun. Ini lebih baik dari proyeksi saat lapsem yang mencapai Rp 110,8 triliun.
“Ternyata realisasinya bisa rendah. Ini bahkan lebih rendah dari APBN awal yang diprediksi Rp 25,5 triliun,” ujar dia.
Untuk Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran atau Silpa, kata Sri Mulyani, hal ini terkait terjadinya penyesuaian pembiayaan. Di akhir 2024, Silpa tercatat sebesar Rp 45,4 triliun.

