Stimulus Cina Berhasil, Rupiah Ditutup Makin Merosot Dekati Rp 16.000/USD
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus merosot hingga mendekati level psikologis Rp 16.000/USD. Jisdor Bank Indonesia (BI) merilis, dalam perdagangan Selasa (3/12/2024) sore ini, kurs rupiah ditutup melemah 45 poin ke level Rp 15.950/USD, dibanding kemarin di posisi Rp 15.905/USD. Sementara itu, stimulus terbaru Cina mulai membuahkan hasil.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menganalisis, saat ini, investor tetap bias terhadap greenback, sebelum ada isyarat lebih lanjut tentang kebijakan moneter AS minggu ini. Sejumlah pejabat Bank Sentral AS akan berpidato dalam beberapa hari mendatang, terutama Ketua The Fed Jerome Powell pada hari Rabu.
"Pidatonya disampaikan hanya beberapa minggu sebelum pertemuan terakhir The Fed untuk tahun ini. Bank Sentral AS secara luas diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin," kata Ibrahim dalam keterangan di Jakarta, Selasa (3/12/2024).
Tingkat Fed Funds Rate sudah dipangkas 75 bps ke 4,50-4,75% sejak September lalu. Ini memperlebar spread dengan BI Rate, yang baru dipangkas 25 bps ke 6% oleh Bank Indonesia, pada periode yang sama.
Baca Juga
Stimulus dan Perbaikan Infrastruktur, Tarik Dana Asing Long Term
"Ketidakpastian tumbuh atas prospek jangka panjang untuk (pemangkasan) suku bunga The Fed, terutama mengingat tanda-tanda inflasi yang kuat dan ketahanan di pasar tenaga kerja AS. Data penggajian nonpertanian AS untuk November akan dirilis Jumat ini, dan secara luas diharapkan menjadi faktor dalam prospek kebijakan The Fed terhadap suku bunga," tuturnya.
Gubernur Federal Reserve Christopher Waller, yang pandangannya sering menjadi penentu kebijakan moneter AS, mengatakan ia cenderung mendukung pemangkasan suku bunga lagi bulan ini. Tetapi, Presiden Federal Reserve Atlanta Raphael Bostic menyatakan bahwa The Fed masih perlu mempertimbangkan data pekerjaan yang akan datang.
Investor bersiap untuk pembacaan yang berpotensi kuat terdampak gangguan badai di AS, yang baru saja mereda. Prospek jangka panjang untuk suku bunga juga dibayangi oleh ketidakpastian atas pemerintahan Presiden Terpilih Donald Trump. Trump secara luas diperkirakan akan memberlakukan kebijakan ekspansif dan proteksionis, yang dapat mendukung suku bunga dan inflasi tinggi.
Sementara itu, pada Selasa malam, indeks dolar AS tercatat melemah 0,20 poin atau 0,19% ke 106,25, berdasarkan data Yahoo Finance.
Stimulus Cina Berhasil
Sementara itu, pembacaan aktivitas bisnis yang positif dari Cina menunjukkan langkah-langkah stimulus terbaru dari Beijing membuahkan hasil. Namun, para pedagang menunggu lebih banyak isyarat tentang ekonomi Cina dari dua pertemuan politik utama pada bulan Desember.
Memburuknya hubungan perdagangan antara AS dan Cina juga diperkirakan berpotensi merusak ekonomi Negeri Tirai Bambu. "Sehingga, hal itu mengurangi minatnya terhadap komoditas," sebut Ibrahim.
Baca Juga
PMI Manufaktur Indonesia Kontraksi 5 Bulan Berturut-turut, Ini Respons Kemenperin

