Kurs Rupiah Menguat Senin Pagi
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan awal pekan ini, Senin (11/11/2024) pagi. Dilansir RTI, kurs rupiah hingga pukul 10.15 WIB menguat 3 poin atau 0,02% ke level Rp 15.662/USD
Sedangkan Yahoo Finance melansir, kurs rupiah hingga pukul 09.20 WIB bergerak menguat 20 poin (0,13%) ke level Rp 15.644/USD. Pada penutupan perdagangan sebelummya, nilai tukar rupiah terhadap greenback berada di posisi Rp 15.664/USD.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro mengungkapkan, investor masih fokus pada potensi dampak kebijakan ekonomi di masa jabatan Presiden AS Terpilih Donald Trump periode kedua, termasuk defisit fiskal yang lebih tinggi dan pengurangan regulasi. Optimisme investor didorong oleh ekspektasi bahwa pemerintahan Trump akan membawa kebijakan probisnis seperti pemotongan pajak, deregulasi, dan tarif, yang diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan.
"Sektor-sektor yang memimpin reli adalah sektor-sektor yang diantisipasi akan memperoleh manfaat paling besar dari kebijakan Trump. Ini termasuk keuangan, energi, dan industri," kata Andry dalam keterangan tertulis, Jakarta, Senin (11/11/2024).
Baca Juga
Ekonom Bank Mandiri itu menuturkan The Fed menurunkan kisaran target suku bunga dana Federal sebesar 25 bps menjadi 4,5%-4,75% pada pertemuan bulan November ini, menyusul pemotongan besar-besaran sebesar 50 bps pada September lalu. Hal ini sesuai dengan ekspektasi.
Para pembuat kebijakan The Fed menegaskan kembali pesan mereka sebelumnya bahwa akan menilai dengan cermat data yang masuk, prospek yang berkembang, dan keseimbangan risiko, ketika mempertimbangkan penyesuaian tambahan terhadap biaya pinjaman. "Selama konferensi pers reguler, Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa The Fed tidak berada pada jalur yang telah ditetapkan sebelumnya, dan akan terus memutuskan berdasarkan pertemuan demi pertemuan," tutur dia.
Baca Juga
Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan Oktober Naik Jadi US$ 73,53 per Barel
Minggu ini, di AS, pasar akan fokus pada rilis data inflasi konsumen dan produsen, penjualan eceran, dan pidato pejabat Federal Reserve. Investor mencari petunjuk tentang prospek kebijakan moneter The Fed pada masa jabatan kedua Trump.
Selain itu, data terbaru tentang produksi industri serta harga ekspor dan impor AS ditunggu oleh investor. "Sementara di Cina, data pinjaman yuan baru, investasi aset tetap, produksi industri, penjualan ritel, dan indeks harga rumah akan menjadi pusat perhatian," papar dia.

