Asing Net Sell Saham Jumbo Rp 2,73 Triliun Rabu, Net Buy SBN Rp 0,71 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Dana asing mengalir keluar dari pasar saham domestik pada Rabu (23/10/2024), dengan mencatatkan net sell jumbo Rp 2,73 triliun. Capital outflow ini lebih besar dibanding kemarin dengan penjualan bersih Rp 0,14 triliun di Bursa Efek Indonesia.
Sepanjang Oktober ini, asing mencatatkan penjualan bersih saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) senilai Rp 7,65 triliun month to date. “Sedangkan secara year to date, asing masih mencatatkan net buy saham Rp 41,98 triliun (US$ 2,69 miliar),” papar BEI dalam keterangan di Jakarta pada Rabu sore.
| Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di BEI vs Dow Jones Industrial Average di Bursa AS. Sumber: BEI dan Dow Jones. Infografis: Diolah Riset Investortrust. |
Baca Juga
IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi, Kurs Rupiah Melemah Rabu Pagi
Mtd, Net Buy SBN Rp 19,27 T
Sementara itu, di pasar Surat Berharga Negara (SBN), data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi pada Selasa lalu (22/10/2024). Non-resident melakukan pembelian neto Rp 0,71 triliun di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan.
Secara month to date, asing sudah mencatatkan pembelian bersih Rp 19,27 triliun di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan hingga Selasa lalu. Secara year to date, asing mencatatkan pemebelian bersih Rp 47,22 triliun hingga Selasa lalu.
Baca Juga
UMP Diumumkan November, Tunggu Data BPS dan Bagaimana Rumusnya?
Rupiah Melemah
Sementara itu sejak Rabu pagi, rupiah melemah terdampak penguatan indeks dolar Amerika Serikat. Hal ini seiring laporan terbaru International Monetary Fund (IMF) yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2025, dan sebaliknya merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi AS.
Nilai tukar mata uang Garuda terhadap greenback tercatat Rp 15.609/USD pada Rabu (23/10/2024) pukul 09.26 WIB. Merujuk data Yahoo Finance, rupiah tercatat terkoreksi 55 poin atau 0,35%.
Berdasarkan kurs Jisdor yang dirilis Bank Indonesia, rupiah akhirnya ditutup pada level Rp 15.620/USD pada 23 Oktober 2024 sore. Nilai tukar rupiah melemah 0,38% atau 60 poin dibandingkan kemarin Rp 15.560/USD.
Pada Rabu pagi, indeks dolar AS bergerak menguat 0,10 poin atau 0,09%. DXY ini secara year to date sudah naik 2,8%
Hal itu seiring data ekonomi masih kuat di negara dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut. "Dari AS, ada ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tidak lagi agresif di periode mendatang. Data Factset menunjukkan, 1/5 emiten S&P 500 yang sudah rilis kinerja kuartal III-2024 juga membukukan laba bersih yang lebih baik dari perkiraan," kata analis pasar keuangan Cheril Tanuwijaya saat membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Rabu (23/10/2024).
Head of Research Mega Capital Sekuritas ini juga membeberkan, IMF merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi AS tahun ini sebesar 0,2 percentage point dibanding forecast pada Juli, ke level 2,8%. Hal ini dilakukan atas pertimbangan kenaikan konsumsi yang lebih baik dari perkiraan, dengan ditopang kenaikan upah dan nilai aset.
Sementara itu, IMF tercatat pada Juli lalu memperkirakan produk domestik bruto (PDB) global akan meningkat ke 3,3% tahun depan, dari tahun 2024 diperkirakan sebesar 3,2%. Namun, dalam laporan terbarunya pekan ini, Dana Moneter Internasional memangkas proyeksi ke 3,2%, sembari memperingatkan meningkatnya sejumlah risiko, mulai dari perang hingga proteksionisme perdagangan internasional.
Proteksi besar-besaran dilancarkan AS terhadap produk Cina, terutama mobil listrik, dengan mengenakan tarif luar biasa tinggi. Langkah ini diikuti Uni Eropa.
Adapun outlook pertumbuhan ekonomi global tahun ini tidak berubah pada level 3,2%. Sedangkan inflasi global diperkirakan melambat menjadi 4,3% pada 2025 dari 5,8% tahun ini.

