Suku Bunga BI Turun, Ekonom: Ungkap Dampak bagi UMKM dan Belanja Masyarakat
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengungkapkan penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6% merupakan momentum penting bagi pelaku UMKM.
Dia menjelaskan, dengan penurunan tersebut, biaya operasional UMKM akan turun. “Pemangkasan suku bunga acuan, implikasinya ke UMKM, yaitu dari beberapa cost ada yang turun karena rupiah relatif menguat dari US dolar dan beban biaya suku bunga yang turun,” kata Andry dikutip dari podcast di kanal Youtube BI, Senin (7/10/2024).
Baca Juga
BI Pertimbangkan Penurunan BI Rate, Pantau Kebijakan Moneter AS dan China
Selain itu, UMKM yang memiliki pinjaman atau cicilan di bank juga mendapat “limpahan berkah” dari penurunan BI Rate. Dengan penurunan biaya atas pinjaman, pelaku UMKM dapat memiliki ruang dan alokasi belanja lainnya. “Sekarang ada alokasi yang lebih besar untuk alokasi biaya yang lain. Jadi ada kelegaan,” tutur dia.
Ruang belanja lain itu, ujar Andry dapat digunakan untuk memperluas jaringan bisnis dan mengembangkan usahanya. “Jadi yang tadinya hanya fokus untuk belanja tertentu, sekarang ada spare ruang untuk memperluas usaha. Jadi ada perputaran yang berdampak pada ekspektasi dan perbaikan dari bisnis UMKM,” kata dia menjelaskan.
Selain dari sisi pelaku UMKM, Andry optimistis, belanja masyarakat diharapkan terimbas positif dari penurunan BI Rate. Transaksi yang terjadi karena ruang belanja masyarakat yang turut melebar.
Baca Juga
Target Kredit 30% Perbankan ke UMKM Meleset, Ini Penyebabnya
Dia menggambarkan, penurunan BI Rate akan memangkas anggaran untuk kredit konsumen. “Kredit konsumen itu ada yang kredit kendaraan bermotor maupun kredit kepemilikan rumah atau apartemen,” ucap dia.
Sebelum pemangkasan terjadi, Andry menjelaskan UMKM akan menghadapi dua biaya dalam operasional mereka. Dua biaya tersebut di antaranya biaya bahan baku yang meningkat dan suku bunga pinjaman yang relatif tinggi. “Dan dari sisi biaya (atas) nilai tukar kalau UMKM tersebut bahan baku impor,” ujar dia.

