Tak Ingin Hanya Jadi Penonton, Ini Target Menteri Investasi bagi Perekonomian Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Invetasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyebutkan bahwa Indonesia tak ingin hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Pengusahan domestic harus bisa menjadi bagian utama dari perputaran perekonomian Indonesia.
"In the same time, kita ingin masyarakat tidak hanya menjadi penonton, harus aktif jadi bagian perjalanan Indonesia. Menurut saya akan menjadi very excited ke depannya," kata Roslan saat diskusi Future of Indonesia Dialogue: Optimisme Dunia Usaha dalam Bermitra dan Menyongsong Pemerintahan Prabowo-Gibran, di Hutan Kota by Plataran, Jakarta, Sabtu (31/8/2024).
Baca Juga
Di Pekan-pekan Awal Pemerintahan Prabowo Bakal Masuk Duit Rp300 Triliun, Dari Mana?
Dia mengatakan, masyarakat Indonesia harus menjadi bagian dari perputaran perekonomian Indonesia. Salah satunya, memanfaatkan sektor sustainable dan clean renewable energy. "Ini apetite-nya sangat-sangat tinggi in term of investment, dan financing," ujar dia.
Oleh karena itu, Roslan mengatakan, diperlukan politeknik pendidikan. Lembaga pendidikan ini bertujuan mencetak manusia Indonesia yang bisa berkembang dan tumbuh. "Apabila kita ingin punya pertumbuhan (ekonomi) yang berkelanjutan dan kesinambungan," ujar dia.
Baca Juga
Pemerintahan Prabowo Subianto Pastikan Buat Kementerian Perumahan dan Badan Penerimaan Negara
Terkait investasi di Indonesia, Roslan mengatakan, terbanyak berasal dari Singapura. Bahkan, telah menduduki peringkat teratas dalam 10 tahun terakhir. "Nomor satu adalah Singapura dan nomor dua China. Sisanya, Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, dan lain-lain," kata dia.
Jika dilihat jumlahnya, investasi yang masuk ke Asia Tenggara sebesar hampir US$ 350 miliar. Sementara itu, porsi investasi untuk Indonesia hanya 10% dari total tersebut atau sekitar US$ 30 miliar. "Padahal eknomi Indonesia yang terbesar di ASEAN. Sebanyak 40% ekonomi Asean datang dari Indonesia. Begitu juga dengan total populasi Asean 630 juta orang, 280 juta orang ada di Indonesia atau hampir 40%" kata dia.
Melihat angka tersebut, Rosan mengatakan, seharusnya Indonesia dapat meraup 40% dari total investasi asing yang mengalir ke ASEAN. Tapi, kondisi ini tak terjadi akibat kepastian regulasi. "Salah satunya adalah kepastian rule of law. Karena investasi, we dont like surprises. Kita maunya semua terukur, terstuktur, sehingga kita bisa melakukan assesment dari risiko dengan baik," ujar dia.

