Gelombang Aksi di Jakarta, Rupiah Melemah di Perdagangan Kurs
JAKARTA, investortrust.id - Mata uang rupiah melemah terhadap indeks dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan nilai tukar (kurs) Kamis (22/8/2024). Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), mata uang rupiah melemah 123 poin ke level Rp 15.579/US$ yang sebelumnya bertengger di posisi Rp 15.456/US$.
Di pasar spot valas seperti dilansir Yahoo Finance, hingga pukul 16.00 WIB mata uang rupiah bergerak melemah 116 poin ke level Rp 15.595/US$. Sebelumnya Yahoo Finance mentatat mata uang rupiah ditutup di posisi Rp 15.479/US$.
Menurut Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, melemahnya kurs rupiah dalam perdagangan hari ini tidak lepas dari gelombang aksi demonstrasi yang terjadi di Jakarta. Diceritakan, hanya berselang satu hari, putusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas perkara Nomor 60/PUU-XXII/2024, dijegal melalui persetujuan revisi Undang-Undang (UU) Pilkada yang berlangsung di Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Baca Juga
Massa Aksi Unjuk Rasa di MK Ajak Masyarakat Boikot Pilkada 2024
Adapun delapan dari sembilan fraksi di DPR sepakat untuk hanya menerapkan sebagian putusan MK terkait syarat pencalonan kepala daerah pada rancangan perubahan UU Pilkada, Rabu (21/8/2024) kemarin. Keputusan yang diambil dalam rapat kerja di Badan Legislasi DPR pada Rabu (21/8/2024) itu dianggap sebagai sebuah “pembangkangan” yang akan menghasilkan proses “demokrasi palsu” dalam pilkada 2024.
"Rencananya, RUU Pilkada seharusnya dibahas dalam Rapat Paripurna DPR, Kamis (22/8/2024) pagi tadi. Namun rapat ditunda karena tidak kuorum," kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (22/8/2024).
Seperti diberitakan sebelumnya, DPR melalui Badan Legislasi berupaya menganulir putusan MK tentang ambang batas pencalonan dan usia kandidat Pilkada melalui revisi UU Pilkada yang pembahasannya dikebut pada Rabu, 21 Agustus 2024. Alhasil, sikap DPR memicu gelombang aksi massa di berbagai daerah.
"Hal itu pun, menjadi sentimen negatif terhadap mata uang garuda. Seharusnya DPR dan pemerintah membangun iklim investasi yang kondusif, transparan, dan terukur. Sebab, pelaku usaha akan memasukkan risiko politik dalam perencanaan ekspansi bisnis mereka," jelas dia.
Baca Juga
USD Vs Euro Capai Titik Terendah Tahun Ini, Rupiah Masih Fluktuatif
Dari sisi eksternal, indeks dolar naik 0,2% dalam perdagangan hari ini, bangkit kembali dari tiga hari penurunan tajam yang menempatkan greenback pada posisi terendah tujuh bulan. Sedangkan, pelemahan dolar terjadi di tengah meningkatnya taruhan pada pemangkasan suku bunga September, dengan risalah rapat Fed akhir Juli, yang dirilis pada hari Rabu, menunjukkan sebagian besar pembuat kebijakan mendukung suku bunga yang lebih rendah.
Revisi tajam ke bawah pada data penggajian AS untuk tahun hingga Maret 2024 semakin memperkuat alasan untuk penurunan suku bunga. Namun, revisi tersebut juga memicu kekhawatiran baru bahwa pasar tenaga kerja yang melambat menandakan resesi AS, terutama karena data penggajian untuk beberapa bulan terakhir juga menunjukkan pelemahan.
"Fokus sekarang tertuju pada pidato Ketua Fed Jerome Powell di Simposium Jackson Hole pada hari Jumat, untuk mendapatkan lebih banyak petunjuk tentang ekonomi," tandas dia.

