Ditanya soal Rupiah dalam Asumsi Makro RAPBN 2025, Menkeu: Kita Lihat Perkembangan
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati merespons penetapan nilai tukar rupiah sebesar Rp 16.100 per dolar AS dalam asumsi makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025.
Menkeu menampik penetapan asumsi makro untuk kurs rupiah tersebut bersifat pesimistis. “Nanti kan kita bahas dengan Banggar dan dengan Komisi XI DPR,” kata Sri Mulyani usai menghadiri rapat kerja dengan Banggar DPR untuk membahas RUU Pertanggungjawaban atas APBN 2023, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (20/8/2024).
Baca Juga
Menurut Sri Mulyani, pihaknya akan terus memantau perkembangan perekonomian. “Kita lihat perkembangan-perkembangan terakhir ya,” ujar dia.
Sebelumnya, dalam sidang paripurna DPR, penetapan kurs Rp 16.100 per dolar AS dalam RAPBN 2025 mendapat kritik dari Juru Bicara Fraksi PDIP, Adisatrya Suryo. Dia meminta pemerintah menghitung ulang asumsi nilai tukar yang saat ini berada di level Rp 15.700 per dolar AS.
“Penetapan nilai tukar rupiah yang melemah ini tidak sejalan dengan upaya kita selama ini untuk memperkuat rupiah dan tren pengelolaan moneter global, khususnya dalam mengantisipasi tren suku bunga tinggi akibat kebijakan The Fed,” ujar dia.
Adisatrya berpandangan, pemerintah sebaiknya menetapkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sesuai kesepakatan awal dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF), yaitu dalam rentang Rp 15.300 hingga Rp 15.900 per dolar AS.
Kritik serupa dilontarkan Wakil Direktur Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Eko Listiyanto. Menurut Eko, penetapan asumsi makro untuk nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bersifat pesimistis. Ini karena asumsi makro nilai tukar akan terbantu oleh optimisme pasar terhadap penurunan suku bunga The Fed.
“Kalau menargetkan Rp 16.100 per dolar AS nggak make sense menurut saya. Oke, kalau kita nggak melakukan apa-apa, Rp 16.000 tembus juga. Tapi kita punya Bank Indonesia (BI) yang menjaga rupiah,” kata Eko kepada investortrust.id, beberapa waktu lalu.
Baca Juga
Ruang Fiskal RAPBN 2025 Sempit, Pemerintah Perlu Mereformasi Subsidi
Eko mengatakan, BI telah melakukan usaha ekstra agar rupiah tak tembus Rp 16.000 per dolar AS akibat sinyal penurunan Fed Funds Rate (FFR).
“Rupiah kita juga menguat gara-gara itu. Tahun depan berarti ada tren bunga tidak lagi high for longer, harusnya itu tercermin pada asumsi makro. Kalau Rp 16.100 tidak mencerminkan itu,” kata dia.
Berikut asumsi makro RAPBN 2025:
Pertumbuhan ekonomi: 5,2%
Inflasi: kisaran 2,5%.
Nilai tukar: Rp 16.100 per dolar AS.
Suku bunga SBN 10 tahun: 7,1%.
Harga minyak mentah Indonesia (ICP): US$ 82 per barel.
Lifting minyak: 600 ribu bph.
Lifting gas: 1,005 juta bsmph.

