Soal Program Makan Bergizi Gratis, Peneliti CSIS Ingatkan Dua Faktor Ini
JAKARTA, investortrust.id - Peneliti senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan berharap, program makan bergizi gratis (MBG) tak digunakan untuk bancakan korupsi.
“Yang penting jangan sampai ini (MBG) jadi bancakan (korupsi)” kata Deni, saat ditemui di auditorium CSIS, Jakarta, Senin (19/8/2024)
Deni mengatakan ada dua faktor yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan program MBG ini. Pertama, kata Deni, program itu harus dipahami sebagai upaya peningkatan gizi anak, meningkatkan kemampuan belajar, dan menekan stunting.
Untuk itu, Deni menyarankan program MBG ini diharapkan menyasar anak di usia dini. “Kalau di banyak penelitian, untuk meningkatkan IQ itu dari umur 0-6 tahun. Jadi yang didahulukan yaitu tingkat PAUD sampai SD. Jadi skalanya tidak langsung masif,” ujar dia.
Baca Juga
Bank Shinhan Indonesia Naikkan Limit Kredit Kredivo Sampai Rp 800 Miliar
Kedua, kata Deni, dampak MBG ke perekonomian. Dia menyebut tujuan MBG salah satunya untuk mendorong UMKM. “Menurut saya itu make sense,” ucap dia.
Tetapi, Deni memberikan catatan. Dia menyebut dengan permintaan bahan makanan yang ada untuk program MBG, diperlukan kesiapan petani dan masyarakat. “Itu multiplier (effect-nya) cukup besar,” kata dia.
Dikatakan Deni, cara yang penting yaitu pengelolaannya dan ketersediaan bahan baku makanan. Jadi, kata dia, ketika permintaan besar datang, petani atau produsen dapat siap.
“Kalau petani nggak siap, domestik nggak siap, yang ada pasti inflasi atau impor. Suplainya harus siap dulu, makanya dilakukan bertahap ditunggu institusinya siap,” ucap dia.
Baca Juga
Ada Program Makan Siang Gratis, 3 Program Kemensos Tak Dapat Alokasi Anggaran di 2025
Dalam buku Nota Keuangan II 2025 menyebut UMKM lokal akan menjadi unit penyedia makanan atau dapur umum peserta didik penerima manfaat.
Pelibatan UMKM lokal ini diharapkan meningkatkan kualitas SDM dan penyerapan tenaga kerja. Dengan rancangan anggaran sebesar 0,29% dari PDB, yang termasuk biaya makanan, distribusi, dan operasional lembaga yang menangani program MBG.
“Sedangkan tenaga kerja yang diharapkan dapat terserap untuk pelaksanaan program ini adalah 0,82 juta pekerja. Dengan jumlah tersebut, Program MBG diharapkan dapat menyumbang peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,10 persen pada tahun 2025,” tulis dokumen tersebut.

