Bagikan

BI Ungkap 4 Tantangan Pengembangan Ekonomi Syariah  

JAKARTA, investortrust.id - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung mengungkap empat tantangan pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Hal ini diungkap saat Opening Ceremony Fetival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia (KTI) Tahun 2024 di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Menurutnya tantangan pertama pengembangan ekonomi syariah di Indonesia adalah tingginya ketergantungan terhadap bahan baku halal dari luar negeri. Baik itu daging maupun bahan-bahan turunan seperti emulsifier yang banyak digunakan dalam industri makanan.

"Sementara itu daging potong yang disembelih di rumah potong hewan, di dalam negeri pun belum semua memiliki sertifikasi halal," kata Juda, Senin (8/7/2024) dipantau secara daring.

Baca Juga

Bidik Literasi Ekonomi Syariah 50% Tahun 2025, BI Fokus Ini

Ia mengungkap tantangan kedua adalah rendahnya pangsa keuangan syariah di Indonesia, yang mana hal ini antara lain disebabkan oleh inovasi produk keuangan syariah yang terbatas dan basis investor keuangan syariah yang belum kuat. Bahkan ia menyebut sejumlah kalangan seringkali belum sepenuhnya terliterasi dengan baik terhadap produk keuangan syariah, ini menimbulkan anggapan keuangan atau bank syariah sama dengan sektor konvensional.

"Ini yang terus perlu terus kita luruskan dan kita lakukan edukasi," sambungnya.

Kemudian tantangan ketiga adalah potensi pasar yang baik dari dalam dan luar negeri belum tergarap dengan optimal. Ia mencontohkan soal potensi modest fashion sebagai salah satu penggerak ekonomi syariah.

"Potensi kita sangat besar untuk menjadi pusat modest fashion dunia, Paris-nya modest fashion harusnya di Indonesia," ucapnya.

Baca Juga

Pangsa Pasar Perbankan Syariah Terus Meningkat Jadi 7,38%

Selain itu ia juga menangkap fenomena negara-negara non muslim seperti Jepang, Korea dan lain-lain yang mulai membuka wisata ramah muslim. Diungkapnya negara-negara itu mulai membuka restoran-restoran halal hingga sejumlah keperluan wisatawan muslim, hal ini menjadi potensi permintaan bagi produk-produk halal.

Dan terakhir ia mengungkap rendahnya literasi ekonomi syariah sebagai tantangan keempat. Dalam kesempatan tersebut, Deputi Gubernur BI tersebut memaparkan survei terakhir terkait literasi ekonomi syariah.

Menurutnya BI mencatat dari seluruh provinsi yang disurvei, literasi ekonomi syariah masih di angka 28%. Angka ini menunjukkan dari 100 orang Indonesia, hanya 28 orang yang memahami tentang ekonomi dan keuangan syariah.

Juda Agung mengungkap pemerintah membidik target literasi ekonomi syariah di tahun 2025 mencapai 50%. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, ia menjelaskan Indonesia bukan saja memiliki potensi ekonomi syariah yang luar biasa, tetapi memiliki juga tanggung jawab untuk membangun ekonomi dan keuangan syariah.

"Indonesia bukan saja diharapkan menjadi pusat ekonomi syariah dunia tetapi menjadi kiblat bagi inovasi pengembangan ekonomi syariah ke depan,"

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024