Wakil Gubernur Jawa Timur Paparkan Strategi Hindari Deindustrialisasi
Poin Penting
|
NGANJUK, investortrust.id - Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak menjelaskan strategi untuk menghindari deindustrialisasi di wilayahnya. Salah satunya dengan menjaga iklim investasi dengan peraturan yang jelas.
“Jangan sampai kemudian lebih banyak pengusaha itu nggak berani bikin pabrik karena bikin pabriknya ruwet, nanti didemo, dipalak di sana-sini, peraturannya berubah-ubah lah. Infrastrukturnya nggak dibangun,” ujar Emil, saat taklimat media, di Nganjuk, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026).
Emil menjelaskan Jawa Timur ingin menjadi primadona bagi industri manufaktur padat karya. Selain aspek birokrasi, Pemerintah Provinsi Jawa Timur tengah melakukan kajian mendalam mengenai regulasi tata ruang sehingga ekspansi industri tidak mengganggu kedaulatan pangan.
Politisi Partai Demokrat ini menjelaskan membangun pabrik bukannya tanpa tantangan dari sisi tata ruang. Meski membutuhkan keberadaan industri, pembangunan pabrik kerap bersinggungan dengan lahan pertanian.
“Maka kita tidak menghilangkan sawah. Kita menentukan mana sawah-sawah prioritas yang harus tetap dijaga,” kata dia.
Langkah konkret yang diambil adalah mengintegrasikan data lahan baku sawah serta Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) agar memberikan kejelasan bagi pelaku industri.
Baca Juga
Rosan: Geopolitik Memanas, Indonesia Justru Jadi Magnet Investasi
“(Dua hal ini) akan memberikan kepastian hukum bagi siapapun yang ingin membangun pabrik,” kata dia.
Selain kepastian tata ruang, Emil juga menjelaskan bahwa pemerintah provinsi (pemprov) Jawa Timur ingin mendorong ketersediaan sumber daya manusia atau SDM yang berkualitas. Sejak tahun 2019, pemerintah telah menggratiskan Sumbangan Pembinaan Sekolah (SPP) untuk tingkat SMA dan SMK negeri, serta memberikan subsidi bagi sekolah swasta.
“Tujuannya apa? Supaya enrollment di SMA dan SMK meningkat. Mereka menjadi sumber suplai SDM yang mumpuni bagi industri,” ujar dia.
Menurut dia, sebanyak 60% siswa di Jawa Timur memilih belajar vokasi di SMK. Sementara bagi siswa SMA, pemerintah tetap membekali mereka dengan keterampilan praktis yang siap pakai.
“Inilah yang kemudian diharapkan bisa ikut membantu agar industri yang ada di Jawa Timur tidak terlalu sulit mencari pekerja,” jelas dia.

