Utang Luar Negeri Indonesia Bertambah Menjadi US$ 437,9 Miliar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mencatat bertambahnya utang luar negeri (ULN) Indonesia menjadi US$ 437,9 miliar pada Februari 2026. Secara bulanan, ULN Indonesia tumbuh 0,68% dibandingkan Januari 2026 yang sebesar US$ 434,9 miliar.
Secara tahunan, ULN Indonesia pada Februari 2026 tumbuh sebesar 2,5%, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,7%.
BI mencatat peningkatan posisi ULN tersebut didorong oleh ULN sektor publik khususnya bank sentral. Ini seiring dengan aliran masuk modal asing ke instrumen moneter, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, posisi ULN swasta mengalami penurunan.
Dari ULN publik, posisi ULN pemerintah pada Februari 2026 tercatat sebesar US$ 215,9 miliar atau secara tahunan tumbuh sebesar 5,5%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 5,6% secara tahunan. Perkembangan posisi ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang.
Berdasarkan sektor ekonomi, penggunaan ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial atau 22,0% dari total ULN pemerintah. Selain itu, ULN pemerintah juga digunakan untuk administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,3%, jasa pendidikan sebesar 16,2%, konstruksi sebesar 11,6%, serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,5%.
Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98% dari total ULN pemerintah. Sementara peningkatan ULN BI didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter yang diterbitkan oleh BI sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global.
Baca Juga
Posisi Utang Luar Negeri Indonesia pada Januari 2026 Bergerak Naik
Posisi ULN swasta pada Februari 2026 tercatat sebesar US$ 193,7 miliar, atau secara tahunan tercatat turun 0,7% secara tahunan. Perkembangan ULN swasta tersebut dipengaruhi oleh kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) yang masing-masing turun 2,8% secara tahunan dan 0,2% secara tahunan.
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Empat sektor tersebut memiliki pangsa mencapai 80,3% terhadap total ULN swasta. ULN swasta didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,0% terhadap total ULN swasta.
BI menilai struktur ULN Indonesia sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat sebesar 29,8%, serta dominasi ULN jangka panjang dengan pangsa 84,9% dari total ULN.
Dalam rangka menjaga agar struktur ULN sehat, BI dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN.
Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

