Kemenkes Sebut 1,7 Juta Bayi di Indonesia Sudah Jalani Skrining Hipotiroid Kongenital
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan terdapat 1,7 juta bayi yang sudah di skrining untuk hipotiroid kongenital hingga awal November 2024.
Hal itu diungkapkan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dalam acara Konferensi Pers Peluncuran White Paper Thyroid: “Pencegahan Dampak Penyakit Tiroid pada Populasi Berisiko Tinggi Melalui Deteksi Dini dan Skrining di Jakarta, Selasa (5/11/2024).
"Dan tahun 2023, 1,2 juta sudah dilakukan skrining. Sampai bulan November ini, awal bulan November, sudah 1,7 juta yang sudah di skrining untuk hipotiroid kongenital," ujar Dante.
Dante menjelaskan, skrining hipotiroid kongenital perlu dikakukan. Menurut Dante, hipotiroid kongenital akan meningkatkan resiko kelainan bayi yang berakibat pada penurunan kecerdasan dan tumbuh kembang.
Kemudian, berdasarkan data, Dante menyampaikan bahwa jika dilakukan studi di dalam populasi, lalu dilakukan ultrasonografi, maka di dalam populasi itu ada 50% populasi yang mempunyai benjolan di tiroid.
"Jadi kalau di kita ini ada berapa orang hari ini datang? 40 orang. Berarti 20 per 20 orang di antaranya kalau di USG ada benjolan tiroid. Walaupun benjolan tiroid itu sebagian besar jinak, hanya 5-10% saja yang ganas. Tapi itu data menunjukkan bahwa skrining kelainan tiroid menjadi sangat penting," jelas Dante.
Sebagai tambahan informasi, skrining hipotiroid kongenital adalah skrining atau uji saring dengan pengambilan sampel darah pada tumit bayi yang baru lahir. Skrining ini dilakukan untuk mengelompokkan bayi yang menderita hipotiroid kongenital (HK) dan bayi yang bukan penderita, sehingga bayi mendapatkan penanganan secara cepat dan tidak akan memberikan dampak yang cukup serius terhadap tumbuh kembang bayi.

