Perguruan Tinggi Dinilai Bisa Berperan Besar Turunkan Stunting
JAKARTA, investortrust.id - Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN, Bonivasius Prasetya Ichtiarto, menyatakan, perguruan tinggi dapat menghasilkan inovasi dan solusi yang relevan untuk mengatasi masalah stunting, karena menjadi tempat berkumpulnya para ahli dan pakar.
Untuk itu, Bonivasius berharap bahwa hasil kajian di empat lokasi khusus (lokus) tidak hanya menjadi dokumen semata. Kajian yang dilakukan oleh perguruan tinggi diharapkan dapat diimplementasikan pada kehidupan masyarakat.
Menurut Bonivasius, peran perguruan tinggi dalam percepatan penurunan stunting dengan 5 pilar sangat strategis. Dilakukan melalui Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
“Sering terjadi setelah selesai, dokumen tidak ada 'follow up,' hanya menjadi 'best practice' di lokus itu saja. Padahal, best practice bisa menjadi contoh daerah lain," ujar Bonivasius dalam seminar Hasil Pendampingan Perguruan Tinggi dalam Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2024 yang dilaksanakan secara hybrid, Selasa (15/10/2024).
Baca Juga
BKKBN dan KKP Perkuat Kolaborasi untuk Wujudkan Ekonomi Biru
Ia melanjutkan bahwa jangan sampai hasil kajian yang dilakukan tersebut hanya menjadi dokumen tertumpuk di perpustakaan kampus dan meja pimpinan-pimpinan saja. “Perlu ada keberlanjutan atau implementasi karena itu kunci keberhasilan kajian yang sudah dilakukan," terangnya.
Pendapat yang sama dikemukakan oleh Ketua Sekretariat Percepatan Penurunan Stunting Sudibyo Alimoeso, yang memaparkan bahwa perguruan tinggi sangat penting untuk melihat kedalaman permasalahan di lapangan sebab melakukan 'research' atau 'evidence based'.
“Perguruan tinggi selalu bicara dengan data, dapat mengatakan apa adanya. Sehingga pendampingan perguruan tinggi melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dapat (lebih mudah) mengedukasi ibu-ibu dan remaja agar patuh. Karena kepatuhan menyusui eksklusif, pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) dengan gizi seimbang masih rendah. Kepatuhan itu penting. Kalau perguruan tinggi bisa mengawal, itu lebih bagus," tutur Soedibyo.
Adapun, dalam rangka mendorong implementasi dan kontribusi perguruan tinggi dalam percepatan penurunan stunting, BKKBN telah bekerjasama dengan 11 perguruan tinggi yang tergabung dalam Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan (PTPK).
Baca Juga
Menurut BKKBN, perguruan tinggi berperan dalam menjaga keberlanjutan program penurunan stunting, memberikan bukti ilmiah kepada pelaksana program, memperkuat kapasitas pemerintah kabupaten/kota dan memberi pendampingan dalam pengembangan model intervensi yang efektif, sekaligus sebagai bahan pembelajaran praktik.
Adapun empat lokus yang disebutkan adalah Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, yang dilaksanakan oleh Universitan Sultan Ageng Tirtayasa; Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, yang dilaksanakan Institut Pertanian Bogor; Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan timur, oleh Universitas Mulawarman; dan Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, oleh Universitas Tadulako. (CR-4)

