Waspada! Kekurangan Zat Besi Bisa Turunkan IQ Anak
JAKARTA, investortrust.id - Masalah kecukupan nutrisi pada anak sering kali hanya berfokus pada asupan makronutrisi seperti protein, karbohidrat, dan lemak. Padahal, peran mikronutrisi, khususnya zat besi, memegang peranan krusial yang menentukan masa depan kualitas hidup anak, terutama dalam hal kecerdasan kognitif.
Dokter Spesialis Anak sekaligus Konselor Laktasi, dr. Lucky Yogasatria, Sp.A menekankan bahwa zat besi adalah salah satu nutrisi yang sangat direkomendasikan untuk diperhatikan sejak dini. Menurutnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah memberikan panduan yang jelas mengenai prioritas asupan suplemen untuk anak.
"IDAI sudah jelas, zat besi itu yang diutamakan vitamin D, zat besi, dan vitamin A," ujar dr. Lucky dalam acara Konferensi Pers Maltofer #ZatBesiPasBekerjaCerdas yang diselenggarakan oleh Combiphar di The Garden Hall - Mayapada Tower 2, Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Baca Juga
Perkuat Bisnis Kesehatan Konsumen, Kalbe (KLBF) Luncurkan Suplemen Zat Besi Bentuk ‘Gummy’
Lebih lanjut, dr. Lucky menyoroti kekeliruan paradigma orang tua yang menganggap zat besi hanya berkaitan dengan masalah anemia atau kurang darah. Ia menjelaskan bahwa zat besi memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar pembentukan Hemoglobin (Hb).
"Zat besi itu bukan cuma untuk Hb aja. Dan kalau anaknya sudah anemia, artinya sudah melalui kekurangan yang sudah cukup lama," jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan para orang tua untuk selalu waspada terhadap periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Masa emas ini dimulai sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Pada periode ini, perkembangan otak terjadi dengan sangat pesat.
"Otak akan mencapai 80% di anak akhir usia 2 tahun. Mungkin kurang sadar bahwa zat besi adalah salah satu faktor penting agar perkembangan otaknya juga lebih baik," tambahnya.
Zat besi berperan vital dalam proses biologis otak, termasuk pembentukan selubung saraf. "Zat besi ini bisa untuk perbaikan apa, mengoptimalkan pembentukan mielin-mielin saraf, perkembangan otaknya jadi lebih baik," ucapnya.
Dampak dari kekurangan zat besi pada anak tidak bisa diremehkan. Bukan hanya sekadar membuat anak terlihat pucat, namun kekurangan zat besi yang kronis dapat menurunkan potensi kecerdasan anak secara signifikan.
"Apa akibatnya kalau kurang? Bukan anemia aja, tapi IQ turun. Serius, IQ turun. Ada penelitian bahwa ketika anak dengan anemia kekurangan zat besi, itu bisa turun sampai 15 poin," tegas dr. Lucky.
Selain penurunan IQ, kekurangan zat besi juga berdampak pada keterlambatan perkembangan fisik dan motorik anak. dr. Lucky menyebutkan bahwa gejala seperti anak yang terlambat bicara atau terlambat berjalan bisa jadi berakar dari masalah yang sama. Gejala awal kekurangan zat besi sering kali tidak terlihat secara fisik.
"Susah banget, zat besi kurang juga anaknya nafsu makannya menurun," katanya.
Baca Juga
Anak Sering Lemas dan Kurang Fokus? Bisa Jadi Kurang Zat Besi, Ini Solusinya
Ia sering menerima keluhan dari ibu-ibu mengenai anak yang tidak aktif dan lemas, meskipun kondisi fisiknya belum terlihat pucat. "Begitu sudah pucat itu sudah telat nih, udah keburu danger Bapak Ibu kalau nunggu pucat dulu ya," beber dr. Lucky.
Sebagai langkah preventif, dr. Lucky menjelaskan bahwa cadangan zat besi alami pada bayi akan mulai habis saat menginjak usia 4 bulan. Oleh karena itu, suplementasi sering kali disarankan sejak dini, bahkan lebih awal bagi bayi yang lahir prematur atau dari ibu yang anemia saat hamil. Hal ini dikarenakan pasokan zat besi untuk perkembangan otak janin sangat bergantung pada kondisi kesehatan sang ibu.
"Dari usia 4 bulan kita berikan. Bahkan waktu Ibunya lagi hamil pun tetap harus ya mengonsumsi itu," ungkapnya.
Terkait asupan makanan, dr. Lucky mengakui adanya tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan zat besi harian anak yang mencapai 11 mg saat memasuki usia 6 bulan. Jumlah tersebut setara dengan konsumsi 500 gram atau setengah kilogram daging ayam setiap hari.
"Bagaimana bisa anak usia 6 bulan makan setengah kilo daging ayam? Buka mulut aja udah alhamdulillah kata ibunya kan," selorohnya.
Namun, ia memberikan alternatif lain yang lebih efektif, yakni hati ayam. Di mana, 70 gram saja sudah cukup memenuhi kebutuhan tersebut. Meskipun sumber nabati seperti bayam mengandung zat besi, dr. Lucky meluruskan bahwa penyerapannya tidak seefektif sumber hewani.
"Zat besi kan sebenarnya ada dua ya, ada heme dan non-heme. Heme itu yang dari protein hewani yang lebih gampang diserap," terangnya.
Lebih jauh, dr. Lucky mengingatkan bahwa suplementasi adalah cara untuk memberikan dukungan tambahan jika asupan dari makanan utama tidak mencukupi.
"Intinya suplementasi diberikan supply kalau anaknya emang kurang dapet asupan dari makan utamanya," pungkasnya.

