AS Minta Warganya Keluar dari Irak, Trump Ancam Eskalasi Perang Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengeluarkan peringatan darurat kepada seluruh warganya di Irak untuk segera meninggalkan negara tersebut dalam waktu dekat, menyusul meningkatnya ancaman dari kelompok milisi yang berafiliasi dengan Iran di tengah eskalasi konflik kawasan.
Peringatan itu disampaikan Kedutaan Besar AS di Baghdad pada Kamis, 2 April 2026 waktu setempat, dengan menyebut warga negara AS berpotensi menjadi target dalam 24 hingga 48 jam ke depan. Informasi ini dikutip dari laporan NBC News yang diperbarui pada 2 April 2026 pukul 21.44 EDT.
Langkah evakuasi ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato nasional pada 1 April 2026 waktu Washington. Dalam pidatonya, Trump membela perang melawan Iran sebagai langkah penting bagi “keamanan dunia bebas” dan menyatakan operasi militer tersebut akan segera berakhir. Namun, di balik klaim tersebut, situasi di lapangan justru menunjukkan eskalasi yang semakin luas dan kompleks.
Baca Juga
Trump Klaim Target Perang Hampir Tercapai, Iran Balas Serangan dan Bantah Gencatan Senjata
Laporan Al Jazeera yang dipublikasikan pada 2 April 2026 menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Israel meningkatkan intensitas serangan ke berbagai target strategis di Iran, termasuk pusat riset medis berusia satu abad di Teheran, jembatan utama, serta fasilitas industri baja. Serangan ini terjadi setelah Trump mengancam akan menggempur Iran hingga “kembali ke Zaman Batu”.
Dalam perkembangan terbaru, Trump bahkan memperingatkan bahwa militer AS “belum benar-benar memulai” penghancuran infrastruktur Iran. “Jembatan berikutnya, lalu pembangkit listrik,” tulisnya dalam unggahan di media sosial pada 2 April 2026.
Di sisi lain, Iran merespons dengan sikap keras. Militer Iran menegaskan perang akan terus berlanjut hingga musuh mengalami “kehinaan dan menyerah”, sekaligus memperingatkan kemungkinan invasi darat oleh Amerika Serikat.
Konflik juga meluas ke Lebanon dan wilayah sekitarnya. Militer Israel mengklaim telah menewaskan lebih dari 40 anggota Hizbullah dalam 24 jam terakhir, sementara kelompok tersebut mengaku melancarkan serangan balasan terhadap posisi militer Israel di perbatasan. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyebut situasi negaranya “sangat kritis”.
Selain itu, serangan rudal dan drone juga dilaporkan terjadi di berbagai negara Teluk. Sirene peringatan terdengar di Bahrain, sementara sejumlah negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melaporkan keberhasilan mencegat serangan udara.
Data korban jiwa menunjukkan eskalasi yang signifikan. Menurut Al Jazeera, sedikitnya 2.076 orang tewas dan lebih dari 26.500 terluka di Iran akibat serangan AS-Israel sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026. Sementara data NBC News mencatat total korban jiwa di seluruh kawasan telah melampaui 3.000 orang, termasuk lebih dari 1.900 korban di Iran, lebih dari 1.300 di Lebanon, serta korban di Israel dan personel militer AS.
Baca Juga
Trump Siap Umumkan Arah Perang Iran, Klaim Kemenangan dan Isyarat Exit Strategy
Di tengah eskalasi tersebut, dampak ekonomi global mulai terasa. Penutupan Selat Hormuz—jalur vital yang mengangkut sekitar 20% pasokan energi dunia—memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan. Futures indeks utama Wall Street dilaporkan melemah setelah Trump memberi sinyal akan meningkatkan intensitas serangan.
Upaya diplomatik pun mulai digerakkan. Lebih dari 40 negara mengikuti pertemuan virtual yang dipimpin Inggris untuk membahas pembukaan kembali Selat Hormuz, meskipun Amerika Serikat tidak ikut serta dalam forum tersebut.
Perkembangan ini juga sejalan dengan laporan Reuters dan BBC News pada periode yang sama, yang mencatat meningkatnya ancaman terhadap kepentingan Barat di Timur Tengah serta belum adanya tanda-tanda de-eskalasi nyata.
Dengan peringatan evakuasi di Irak dan meluasnya konflik ke berbagai titik strategis kawasan, perang Iran kini telah berkembang menjadi krisis regional dengan implikasi global, baik dari sisi keamanan maupun stabilitas ekonomi.

