Reaksi Publik Iran Terbelah Pasca Wafatnya Khamenei
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Kabar wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, akibat serangan udara bersama pasukan Amerika Serikat dan Israel telah memicu reaksi publik yang terbelah di dalam negeri Republik Islam. Di sejumlah kota besar seperti Teheran, Qom, dan Mashhad, gelombang massa turun ke jalan menggelar demonstrasi dan berduka, mengibarkan bendera Iran serta poster Khamenei sambil mengecam serangan militer yang menewaskan sang pemimpin dan anggota keluarganya, serta melabeli serangan itu sebagai tindakan kejam terhadap kedaulatan nasional. Pemerintah bahkan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari ditambah hari libur resmi tujuh hari sebagai bentuk penghormatan atas kematian Khamenei, yang oleh media negara disebut telah mencapai martabat syahid.
Namun di sisi lain, reaksi berbeda juga terekam di beberapa wilayah Iran, terutama di kota-kota yang sempat menjadi pusat gerakan protes panjang terhadap rezim teokratis dalam beberapa bulan terakhir. Laporan media internasional mencatat sebagian warga justru merayakan kabar kematian Khamenei, merasakan campuran kejutan dan euforia. Fenomena ini menjadi penanda kuat bahwa ketidakpuasan terhadap pemerintahan pusat masih sangat nyata di sebagian lapisan masyarakat.
Perpecahan ini menegaskan bahwa wafatnya figur sentral negara tidak hanya memicu duka nasional, tetapi juga memperdalam polarisasi sosial dan politik di Iran. Sementara sebagian masyarakat mengekspresikan kesetiaan dan kehilangan yang mendalam, sebagian lainnya melihat momen ini sebagai peluang bagi perubahan besar dalam struktur pemerintahan yang selama ini dianggap represif dan tidak responsif terhadap aspirasi rakyat. Dengan negara yang kini dipimpin dewan transisi sementara, dinamika ini menunjukkan tantangan besar bagi Iran dalam menjaga stabilitas domestik di tengah konflik dan krisis geopolitik yang terus berkembang.
Laporan Reuters menggambarkan kontras tajam di berbagai wilayah Iran. Televisi pemerintah Iran mengumumkan kematian Khamenei pada Minggu (1/3/2026) dini hari dengan nada emosional, menayangkan gambar ribuan pelayat berpakaian hitam memadati alun-alun di Teheran, banyak di antaranya menangis dan menyerukan pembalasan terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Sebaliknya, sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan suasana perayaan di tempat lain. Di Dehloran, Provinsi Ilam, massa dilaporkan merobohkan patung simbol kekuasaan, sementara di Karaj, dekat Teheran, dan di Izeh, Provinsi Khuzestan, sekelompok warga terlihat menari dan bersorak di jalanan. Di kota Galleh Dar, Iran selatan, sebuah monumen yang memperingati Rohullah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran, dilaporkan diruntuhkan oleh warga.
Salah satu video menunjukkan seseorang berteriak, “Apakah ini mimpi? Selamat datang di dunia baru!” ketika api menyala di bundaran tempat monumen itu sebelumnya berdiri, disambut sorak-sorai. Reuters menyatakan telah memverifikasi lokasi video-video tersebut.
Baca Juga
Iran Konfirmasi Ayatollah Ali Khamenei Tewas usai Serangan AS-Israel
Perayaan juga dilaporkan terjadi di Lapuee, Iran selatan, di depan rumah seorang remaja berusia 15 tahun, Pooya Jafari, yang tewas ditembak saat protes anti-pemerintah pada Januari lalu. Penindakan keras terhadap demonstrasi pada bulan tersebut menewaskan ribuan orang, menjadikannya gelombang kerusuhan paling berdarah sejak Revolusi Islam 1979.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pernyataannya menyerukan rakyat Iran untuk memanfaatkan momen ini guna menggulingkan pemerintahan. Seruan tersebut memicu kemarahan di kalangan pendukung rezim. Dalam sebuah aksi berkabung di Teheran, seorang pelayat mengatakan kematian Khamenei menumbuhkan kebencian mendalam terhadap Amerika Serikat dan Israel serta tekad untuk membalas darah sang pemimpin.
Namun tidak semua warga Iran memandang situasi ini dengan kegembiraan. Seorang guru sekolah dasar di Shiraz mengaku tidak dapat merasa senang atas kematian pemimpin negaranya akibat serangan asing. Ia menyatakan kekhawatiran bahwa Iran dapat terjerumus ke dalam kekacauan seperti yang dialami Irak pasca-intervensi asing.
Di sisi lain, seorang mahasiswi berusia 33 tahun dari Isfahan mengatakan bahwa ia menangis karena campuran rasa bahagia dan tidak percaya ketika mendengar kabar wafatnya Khamenei. Ia berharap peristiwa ini menjadi akhir dari Republik Islam. Sementara itu, seorang mahasiswa di Mashhad menyatakan kesiapannya berkorban demi membalas kematian Khamenei, menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Israel akan “membayar harga yang mahal”.

