OPEC+ Pertahankan Produksi Minyak di Tengah Ketegangan AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - OPEC+ sepakat mempertahankan tingkat produksi minyaknya untuk Maret. Kelompok produsen minyak tersebut memutuskan hal itu, meskipun harga minyak mentah sempat menyentuh level tertinggi dalam enam bulan akibat kekhawatiran Amerika Serikat serang Iran.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak 3%, Risiko Iran Kembali Guncang Pasar Energi
Pertemuan delapan negara anggota OPEC+ berlangsung Minggu (1/2/2026). Kontrak berjangka Brent ditutup di level US$70,69 per barel pada Jumat, turun 2 sen atau 0,03%, mendekati level tertinggi enam bulan di US$71,89 yang tercapai pada Kamis. Kontrak Brent untuk pengiriman Maret berakhir pada Jumat. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup di US$65,21 per barel, turun 21 sen atau 0,32%.
Penurunan harga tersebut terjadi meskipun terdapat spekulasi bahwa kelebihan pasokan pada 2026 akan menekan harga lebih lanjut.
Delapan produsen — Arab Saudi, Rusia, Uni Emirat Arab, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman — telah menaikkan kuota produksi sekitar 2,9 juta barel per hari dari April hingga Desember 2025, setara dengan sekitar 3% dari permintaan global.
Pada November lalu, mereka membekukan rencana kenaikan produksi untuk Januari hingga Maret 2026 karena konsumsi musiman yang lebih lemah.
Pertemuan singkat pada Minggu itu menegaskan kembali keputusan tersebut untuk Maret, setelah pertemuan sebelumnya juga melakukan hal yang sama untuk Januari dan Februari.
Tak Ada Panduan Ke Depan
Pernyataan hari Minggu, seperti dilansir CNBC, tidak menyebutkan keputusan apa pun untuk bulan-bulan setelah Maret. Ketiadaan panduan ke depan ini dinilai signifikan, kata Jorge Leon, mantan pejabat OPEC yang kini menjabat kepala analisis geopolitik di Rystad Energy.
“Dengan meningkatnya ketidakpastian terkait Iran dan ketegangan dengan AS, kelompok ini menjaga semua opsi tetap terbuka,” ujarnya.
Baca Juga
OPEC+ Akan Tambah Produksi, Harga Minyak Anjlok Lebih dari 3%
“Angka internal OPEC sendiri menunjukkan kebutuhan yang lebih rendah terhadap minyak mentah OPEC+ pada kuartal kedua, yang dapat membatasi ruang untuk kenaikan produksi,” tambah Leon.
OPEC+ mencakup Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia, serta sekutu lainnya. Secara keseluruhan, OPEC+ menyumbang sekitar setengah dari pasokan minyak dunia.
Panel terpisah OPEC+, Joint Ministerial Monitoring Committee (JMMC), juga menggelar pertemuan pada Minggu. Namun, JMMC tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan terkait kebijakan produksi.
JMMC menekankan pentingnya kepatuhan penuh terhadap kesepakatan produksi OPEC+, menurut pernyataan di situs web OPEC.
Kesediaan Berdialog
Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan sejumlah opsi terkait Iran, termasuk serangan terbatas terhadap pasukan keamanan dan para pemimpin negara tersebut dengan tujuan memicu protes, menurut sejumlah sumber pada Kamis.
Washington telah memberlakukan sanksi luas terhadap Teheran untuk membatasi pendapatan minyaknya, yang merupakan sumber pendanaan penting negara tersebut. Baik AS maupun Iran sejak itu sama-sama memberi sinyal kesiapan untuk berdialog, namun Teheran pada Jumat mengatakan kemampuan pertahanannya tidak boleh menjadi bagian dari pembicaraan apa pun.
Harga minyak juga mendapat dukungan dari gangguan pasokan di Kazakhstan, di mana sektor minyak mengalami serangkaian gangguan dalam beberapa bulan terakhir. Kazakhstan mengatakan pada Rabu bahwa pihaknya mulai menghidupkan kembali ladang minyak raksasa Tengiz secara bertahap.
Delapan negara tersebut berencana menggelar pertemuan berikutnya pada 1 Maret, sementara JMMC dijadwalkan bertemu pada 5 April, menurut pernyataan resmi.

