Penggunaan AI Kian Menciptakan Kesenjangan
Poin Penting
|
DAVOS, Investortrust.id— Diskusi mengenai kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kembali menjadi salah satu sorotan utama dalam Pertemuan Tahunan ke-56 World Economic Forum di Davos-Klosters, Swiss. Laporan terbaru Forum menegaskan bahwa AI telah memberikan peningkatan kinerja yang nyata dan terukur, tetapi pada saat yang sama juga menciptakan kesenjangan baru antara perusahaan dan negara yang mampu menskalakan AI dengan cepat dan mereka yang masih tertinggal pada tahap eksperimen.
Dalam laporan bertajuk Proof over Promise: Insights on Real-World AI Adoption from 2025 MINDS Organizations, yang disusun bersama Accenture, WEF menyoroti perbedaan mencolok antara organisasi yang telah berhasil menjadikan AI sebagai bagian dari strategi inti dengan mereka yang masih kesulitan menerjemahkan potensi teknologi ini ke dalam dampak operasional. Kesenjangan tersebut dinilai akan semakin melebar seiring percepatan investasi global di sektor AI dan meningkatnya ekspektasi pasar.
Laporan tersebut merangkum temuan dari program MINDS (Meaningful, Intelligent, Novel, Deployable Solutions), yang mengkaji ratusan studi kasus penerapan AI di lebih dari 30 negara dan 20 sektor industri, mulai dari kesehatan, energi, manufaktur, hingga jasa keuangan. Dari analisis tersebut, Dewan Dampak independen WEF menemukan pola yang konsisten pada organisasi yang sukses menskalakan AI.
Pola tersebut antara lain adalah integrasi AI ke dalam pengambilan keputusan strategis perusahaan, perancangan ulang proses kerja untuk memperkuat kolaborasi manusia dan mesin, penguatan fondasi data, modernisasi platform teknologi, serta penerapan tata kelola AI yang bertanggung jawab. Tanpa lima elemen tersebut, AI dinilai hanya akan berhenti sebagai proyek teknologi, bukan mesin pencipta nilai.
Baca Juga
“A Spirit of Dialogue” di Tengah Ketegangan Global yang Meningkat
“AI menawarkan potensi yang luar biasa, namun banyak organisasi masih belum yakin bagaimana mewujudkannya,” ujar Stephan Mergenthaler, Managing Director dan Chief Technology Officer World Economic Forum. Menurut dia, berbagai use case yang diangkat dalam laporan ini menunjukkan bahwa ambisi harus diterjemahkan menjadi transformasi operasional agar AI benar-benar memberi dampak ekonomi.
Nada serupa disampaikan Accenture. Chief Strategy and Services Officer Accenture, Manish Sharma, menegaskan bahwa AI yang tepercaya dan canggih memang mampu mentransformasi bisnis, tetapi hanya jika didukung penataan data, proses, dan— yang tak kalah penting— kecerdikan manusia. “Tanpa rencana yang jelas dan inovasi yang bertanggung jawab, investasi AI berisiko tidak menghasilkan imbal balik optimal,” ujarnya.
Diskusi AI di Davos juga menyoroti contoh konkret kesenjangan tersebut. Di sektor teknologi informasi, kolaborasi Advanced Micro Devices (AMD) dan Synopsys mampu menggandakan produktivitas perancang chip melalui agentic AI. Sementara itu, di sektor energi, perusahaan seperti Siemens dan Schneider Electric telah menggunakan AI untuk meningkatkan efisiensi energi dan kenyamanan secara bersamaan. Namun, banyak organisasi lain masih berkutat pada tahap uji coba terbatas.
Di bidang kesehatan, penerapan AI telah menunjukkan dampak sosial yang signifikan, mulai dari skrining kanker dini di wilayah terpencil China hingga optimalisasi manajemen rumah sakit di Jepang dan Arab Saudi. Sebaliknya, negara dan institusi dengan keterbatasan infrastruktur data dan SDM berisiko tertinggal dalam memanfaatkan AI untuk layanan publik.
WEF menilai bahwa kesenjangan ini bukan semata persoalan teknologi, melainkan juga kesiapan institusi, regulasi, dan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, Forum menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor —antara pemerintah, dunia usaha, dan akademisi— untuk memastikan adopsi AI berlangsung inklusif dan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, WEF mengumumkan angkatan kedua MINDS yang terdiri dari 20 pelopor AI berdampak tinggi, serta membuka pendaftaran untuk angkatan ketiga. Organisasi publik dan swasta diundang untuk mengajukan proyek AI yang tidak hanya inovatif, tetapi juga patuh terhadap prinsip etika dan tata kelola.
Dengan tema “A Spirit of Dialogue”, Pertemuan Tahunan WEF 2026 menegaskan bahwa AI bukan sekadar alat teknologi, melainkan faktor strategis yang akan menentukan daya saing ekonomi global. Tanpa strategi yang tepat, AI berpotensi memperlebar jurang produktivitas. Namun, jika dikelola secara inklusif dan bertanggung jawab, AI justru dapat menjadi jembatan menuju pertumbuhan yang lebih merata.

